Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2015

Ilmuwan: Penyebaran dan Gerakan Syiah Berbahaya Bagi Indonesia


Ilmuwan: Penyebaran dan Gerakan Syiah Berbahaya Bagi Indonesia
Kampus International Islamic University Malaysia (IIUM) (ilustrasi)
Hidayatullah.com—Aliran Syiah masuk ke berbagai belahan dunia dengan menggunakan beberapa strategi.  Strategi itu terfokus pada penguasaan tiga asas utama yang ada pada setiap negara, yaitu militer, ilmu pengetahuan (ulama dan intelektual), serta ekonomi (pemilik modal).
Demikian disampaikan Assoc. Prof. Dr. Kamaluddin Marjuni dalam dialog ilmiah tentang Syiah di kampus International Islamic University Malaysia (IIUM) hari Sabtu, 14 Maret 2015.
Acara yang digagas Islamic Studies Forum for Indonesia (ISFI) dengan mengangkat tema “Syiah: Apa, Siapa, Mengapa, dan Bagaimana?” itu juga menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Syamsuddin Arif.
Menurut Dr. Kamaluddin Marjuni, selain itu, upaya pensyiahan dunia Islam juga dilakukan melalui penguatan hubungan diplomatik, politik, dan kebudayaan.
Sejak Revolusi Iran, pengaruh Syiah terus menyebar ke banyak negeri Muslim. Negeri-negeri berpenduduk mayoritas Sunni, termasuk di antaranya Malaysia, yang kebanyakan menolak penyebaran paham Syiah di negerinya.
Namun, menariknya, di Indonesia, paham apa pun masuk dan diterima, termasuk Syiah, padahal hal itu sangat tidak menguntungkan Indonesia ke depannya.
“Iran melalui bantuan pendidikannya berencana melahirkan seribu doktor (PhD) di Indonesia,” ujar Dr. Kamaluddin.
“Saudi Arabia pun berencana melahirkan seribu doktor di Indonesia. Masing-masing tentu akan menyebarkan paham Syiah dan Salafy ke Indonesia. Jadi bisa dibayangkan akan seperti apa pertarungan intelektual di Tanah Air ke depannya dengan semakin ramainya kedua kelompok yang sangat bermusuhan ini. Hal ini akan menjadi tantangan yang sangat besar bagi kalangan Asy’ari di Tanah Air,” ujarnya.
Jejak Persia
Sementara itu, Dr. Syamsuddin Arif mengamati adanya jejak-jejak Persia di dalam paham dan praktek keagamaan Syiah.
Ia menyebutkan adanya beberapa upaya menghidupkan kembali identitas Persia, sejak negeri itu dikuasai oleh Muslim, melalui gerakan-gerakan perlawanan terhadap pemerintah pusat, antara lain melalui gerakan Syiah.
Banyak hal yang mengundang pertanyaan tentang Syiah. Salah satu contoh mendasar adalah bagaimana “seluruh agama (Islam) disederhanakan menjadi semata-mata isu Ali-Fatimah-Hasan-Husain.”
Dr. Syamsuddin juga menyinggung tentang beberapa praktek keberagamaan Syiah yang ganjil. Ia memberi contoh penelitian Edith Szanto tentang penjualan beberapa barang terkait seks, seperti kondom, Viagra dan krim untuk alat vital, yang dijajakan secara bebas di tempat-tempat ziarah Syiah di Damaskus. Seolah-olah hal itu merupakan satu bentuk dukungan keagamaan bagi para peziarah yang datang.
Dalam dialog ilmiah ini kedua pembicara sama-sama menjelaskan tentang beragamnya kelompok Syiah yang ada, mulai dari yang ekstrim hingga moderat.
Karena itu penting bagi kalangan Ahlu Sunnah untuk tidak mengeneralisir penyikapan terhadap Syiah. Bagaimanapun, keduanya menekankan bahwa penyebaran paham dan gerakan Syiah merupakan hal yang berbahaya bagi Indonesia.*
sumber;http://www.hidayatullah.com

Senin, 13 April 2015

AWAS Buku-Buku Beracun Di Sekitar Anda…

Jika kita ke toko buku, terkadang tertarik dengan suatu buku. Namun jangan tergesa-gesa dahulu untuk membelinya. Lihat dulu pengarangnya. Apakah dari Ahlus Sunnah wal jama’ah atau bukan. Kalo perlu, lihat juga penerjemahnya (untuk yang bahasa Indonesia) dan penerbitnya. Jangan sampai kita salah di dalam memilih buku.

Pada kesempatan ini kami bawakan daftar buku-buku syiah yang kami dapatkan dari situs salah satu yayasan syiah di Yogyakarta.
Maksud kami ini tidak lain dan tidak bukan agar kita tidak tersesat dalam memilih buku. Kita tahu dan belajar kejelekan bukan untuk kita amalkan tapi untuk kita jauhi.
PENERBIT JUDUL
BUKU DAN PENGARANG
Lentera
  1. Akhlak Keluarga Nabi, Musa Jawad Subhani
  2. Ar-Risalah, Syaikh Ja?far Subhani
  3. As-Sair Wa As-suluk, Sayid Muhammad Mahdi Thabathaba?i Bahrul Ulum
  4. Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Khalil Al Musawi
  5. Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, Khalil al-Musawi
  6. Bagaimana Menyukseskan Pergaulan, Khalil al-Musawi
  7. Belajar Mudah Tasawuf, Fadlullah Haeri
  8. Belajar Mudah Ushuluddin, Syaikh Nazir Makarim Syirasi
  9. Berhubungan dengan Roh, Nasir Makarim Syirazi
  10. Ceramah-Ceramah (1), Murtadha Muthahhari
  11. Ceramah-Ceramah (2), Murtadha Muthahhari
  12. Dunia Wanita Dalam Islam, Syaikh Husain Fadlullah
  13. Etika Seksual dalam Islam, Murtadha Muthahhari
  14. Fathimah Az-Zahra, Ibrahim Amini
  15. Fiqih Imam Ja?far Shadiq [1], Muhammad Jawad Mughniyah
  16. Fiqih Imam Ja?far Shadiq Buku [2], Muh Jawad Mughniyah
  17. Fiqih Lima Mazhab, Muh Jawad Mughniyah
  18. Fitrah, Murthadha Muthahhari
  19. Gejolak Kaum Muda, Nasir Makarim Syirazi
  20. Hak-hak Wanita dalam Islam, Murtadha Muthahhari
  21. Imam Mahdi Figur Keadilan, Jaffar Al-Jufri (editor)
  22. Kebangkitan di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi
  23. Keutamaan & Amalan Bulan Rajab, Sya?ban dan Ramadhan,Sayid Mahdi al-Handawi
  24. Keluarga yang Disucikan Allah, Alwi Husein, Lc
  25. Ketika Bumi Diganti Dengan Bumi Yang Lain, Jawadi Amuli
  26. Kiat Memilih Jodoh, Ibrahim Amini
  27. Manusia Sempurna, Murtadha Muthahhari
  28. Mengungkap Rahasia Mimpi, Imam Ja?far Shadiq
  29. Mengendalikan Naluri, Husain Mazhahiri
  30. Menumpas Penyakit Hati, Mujtaba Musawi Lari
  31. Metodologi Dakwah dalam Al-Qur?an, Husain Fadhlullah
  32. Monoteisme, Muhammad Taqi Misbah
  33. Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani, Husain Mazhahiri
  34. Memahami Esensi AL-Qur?an, S.M.H. Thabatabai
  35. Menelusuri Makna Jihad, Husain Mazhahiri
  36. Melawan Hegemoni Barat, M. Deden Ridwan (editor)
  37. Mengenal Diri, Ali Shomali
  38. Mengapa Kita Mesti Mencintai Keluarga Nabi Saw, Muhammad Kadzim Muhammad Jawad
  39. Nahjul Balaghah, Syarif Radhi (penyunting)
  40. Penulisan dan Penghimpunan Hadis, Rasul Ja?farian
  41. Perkawinan Mut?ah Dalam Perspektif Hadis dan Tinjauan Masa Kini, Ibnu Mustofa (editor)
  42. Perkawinan dan Seks dalam Islam, Sayyid Muhammad Ridhwi
  43. Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur?an (1), Murtadha Muthahhari
  44. Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur?an (2), Murtadha Muthahhari
  45. Pintar Mendidik Anak, Husain Mazhahiri
  46. Rahasia Alam Arwah, Sayyid Hasan Abthahiy
  47. Suara Keadilan, George Jordac
  48. Yang Hangat dan Kontroversial dalam Fiqih, Ja?far Subhani
  49. Wanita dan Hijab, Murtadha Muthahhari
Pustaka Hidayah
  1. 14 Manusia Suci, WOFIS IRAN
  2. 70 Salawat Pilihan, Al-Ustads Mahmud Samiy
  3. Agama Versus Agama, Ali Syari?ati
  4. Akhirat dan Akal, M Jawad Mughniyah
  5. Akibat Dosa, Ar-Rasuli Al-Mahalati
  6. Al-Quran dan Rahasia angka-angka, Abu Zahrah Al Najdiy
  7. Asuransi dan Riba, Murtadha Muthahhari
  8. Awal dan Sejarah Perkembangan Islam Syiah, S Husain M Jafri
  9. Belajar Mudah Ushuluddin, Dar al-Haqq
  10. Bimbingan Keluarga dan Wanita Islam, Husain Ali Turkamani
  11. Catatan dari Alam Ghaib, S Abd Husain Dastaghib
  12. Dari Saqifah Sampai Imamah, Sayyid Husain M. Jafri
  13. Dinamika Revolusi Islam Iran, M Riza Sihbudi
  14. Falsafah Akhlak, Murthadha Muthahhari
  15. Falsafah Kenabian, Murthada Muthahhari
  16. Gerakan Islam, A. Ezzati
  17. Humanisme Antara Islam dan Barat, Ali Syari?ati
  18. Imam Ali Bin Abi Thalib & Imam Hasan bin Ali Ali Muhammad Ali
  19. Imam Husain bin Ali & Imam Ali Zainal Abidin Ali Muhammad Ali
  20. Imam Muhammad Al Baqir & Imam Ja?far Ash-Shadiq Ali Muhammad Ali
  21. Imam Musa Al Kadzim & Imam Ali Ar-Ridha Ali Muhammad Ali
  22. Inilah Islam, SMH Thabataba?i
  23. Islam Agama Keadilan, Murtadha Muthahhari
  24. Islam Agama Protes, Ali Syari?ati
  25. Islam dan Tantangan Zaman, Murthadha Muthahhari
  26. Jejak-jejak Ruhani, Murtadha Muthahhari
  27. Kepemilikan dalam Islam, S.M.H. Behesti
  28. Keutamaan Fatimah dan Ketegaran Zainab, Sayyid Syarifuddin Al Musawi
  29. Keagungan Ayat Kursi, Muhammad Taqi Falsafi
  30. Kisah Sejuta Hikmah, Murtadha Muthahhari
  31. Kisah Sejuta Hikmah [1], Murthadha Muthahhari
  32. Kisah Sejuta Hikmah [2],Murthadha Muthahhari
  33. Memilih Takdir Allah, Syaikh Ja?far Subhani
  34. Menapak Jalan Spiritual, Muthahhari & Thabathaba?i
  35. Menguak Masa Depan Umat Manusia, Murtadha Muthahhari
  36. Menolak Isu Perubahan Al-Quran, Rasul Ja?farian
  37. Mengurai Tanda Kebesaran Tuhan, Imam Ja?far Shadiq
  38. Misteri Hari Pembalasan, Muhsin Qara?ati
  39. Muatan Cinta Ilahi, Syekh M Mahdi Al-syifiy
  40. Nubuwah Antara Doktrin dan Akal, M Jawad Mughniyah
  41. Pancaran Cahaya Shalat, Muhsin Qara?ati
  42. Pengantar Ushul Fiqh, Muthahhari & Baqir Shadr
  43. Perayaan Maulid, Khaul dan Hari Besar Islam, Sayyid Ja?far Murtadha al-Amili
  44. Perjalanan-Perjalanan Akhirat, Muhammad Jawad Mughniyah
  45. Psikologi Islam, Mujtaba Musavi Lari
  46. Prinsip-Prinsip Ijtihad Dalam Islam, Murtadha Muthahhari& M. Baqir Shadr
  47. Rasulullah SAW dan Fatimah Ali Muhammad Ali
  48. Rasulullah: Sejak Hijrah Hingga Wafat, Ali Syari?ati
  49. Reformasi Sufistik, Jalaluddin Rakhmat
  50. Salman Al Farisi dan tuduhan Terhadapnya, Abdullah Al Sabitiy
  51. Sejarah dalam Perspektif Al-Quran, M Baqir As-Shadr
  52. Tafsir Surat-surat Pilihan [1], Murthadha Muthahhari
  53. Tafsir Surat-surat Pilihan [2], Murthadha Muthahhari
  54. Tawasul, Tabaruk, Ziarah Kubur, Karamah Wali, Syaikh Ja?far Subhani
  55. Tentang Dibenarkannya Syafa?at dalam Islam, Syaikh Ja?far Subhani
  56. Tujuan Hidup, M.T. Ja?fari
  57. Ummah dan Imamah, Ali Syari?ati
  58. Wanita Islam & Gaya Hidup Modern, Abdul Rasul Abdul Hasan al-Gaffar
MIZAN
  1. 40 Hadis [1], Imam Khomeini
  2. 40 Hadis [2], Imam Khomeini
  3. 40 Hadis [3], Imam Khomeini
  4. 40 Hadis [4], Imam Khomeini
  5. Akhlak Suci Nabi yang Ummi, Murtadha Muthahhari
  6. Allah dalam Kehidupan Manusia, Murtadha Muthahhari
  7. Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami-Istri, Ibrahim Amini
  8. Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi, O.Hasem
  9. Dialog Sunnah Syi?ah, A Syafruddin al-Musawi
  10. Eksistensi Palestina di Mata Teheran dan Washington, M Riza Sihbudi
  11. Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari
  12. Falsafatuna, Muhammad Baqir Ash-Shadr
  13. Filsafat Sains Menurut Al-Quran, Mahdi Gulsyani
  14. Gerakan Islam, A Ezzati
  15. Hijab Gaya Hidup Wanita Muslim, Murtadha Muthahhari
  16. Hikmah Islam, Sayyid M.H. Thabathaba?i
  17. Ideologi Kaum Intelektual, Ali Syari?ati
  18. Ilmu Hudhuri, Mehdi Ha?iri Yazdi
  19. Islam Aktual, Jalaluddin Rakhmat
  20. Islam Alternatif, Jalaluddin Rakhmat
  21. Islam dan Logika Kekuatan, Husain Fadhlullah
  22. Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi, Ali Syari?ati
  23. Islam Dan Tantangan Zaman, Murtadha Muthahhari
  24. Islam, Dunia Arab, Iran, Barat Dan Timur tengah, M Riza Sihbudi
  25. Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah-Syi?ah, A Syafruddin Al Musawi
  26. Jilbab Menurut Al Qur?an & As Sunnah, Husain Shahab
  27. Kasyful Mahjub, Al-Hujwiri
  28. Keadilan Ilahi, Murtadha Muthahhari
  29. Kepemimpinan dalam Islam, AA Sachedina
  30. Kritik Islam Atas Marxisme dan Sesat Pikir Lainnya, Ali Syari?ati
  31. Lentera Ilahi Imam Ja?far Ash Shadiq
  32. Manusia dan Agama, Murtadha Muthahhari
  33. Masyarakat dan sejarah, Murtadha Muthahhari
  34. Mata Air Kecemerlangan, Hamid Algar
  35. Membangun Dialog Antar Peradaban, Muhammad Khatami
  36. Membangun Masa Depan Ummat, Ali Syari?ati
  37. Mengungkap Rahasia Al-Qur?an, SMH Thabathaba?i
  38. Menjangkau Masa Depan Islam, Murtadha Muthahhari
  39. Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer, Jalaluddin Rakhmat
  40. Menyegarkan Islam, Chibli Mallat (*0
  41. Menjelajah Dunia Modern, Seyyed Hossein Nasr
  42. Misteri Kehidupan Fatimah Az-Zahra, Hasyimi Rafsanjani
  43. Muhammad Kekasih Allah, Seyyed Hossein Nasr
  44. Muthahhari: Sang Mujahid Sang Mujtahid, Haidar Bagir
  45. Mutiara Nahjul Balaghah, Muhammad Al Baqir
  46. Pandangan Dunia Tauhid,. Murtadha Muthahhari
  47. Para Perintis Zaman Baru Islam,Ali Rahmena
  48. Penghimpun Kebahagian, M Mahdi Bin Ad al-Naraqi
  49. PersinggahanPara Malaikat, Ahmad Hadi
  50. Rahasia Basmalah Hamdalah, Imam Khomeini
  51. Renungan-renungan Sufistik, Jalaluddin Rakhmat
  52. Rubaiyat Ummar Khayyam, Peter Avery
  53. Ruh, Materi dan Kehidupan, Murtadha Muthahhari
  54. Spritualitas dan Seni Islam, Seyyed Hossein Nasr
  55. Syi?ah dan Politik di Indonesia, A. Rahman Zainuddin (editor)
  56. Sirah Muhammad, M. Hashem
  57. Tauhid Dan Syirik, Ja?far Subhani
  58. Tema-Tema Penting Filsafat, Murtadha Muthahhari
  59. Ulama Sufi & Pemimpin Ummat, Muhammad al-Baqir
YAPI
JAKARTA
  1. Abdullah Bin Saba? dalam Polemik, Non Mentioned
  2. Abdullah Bin Saba? Benih Fitnah, M Hashem
  3. Al Mursil Ar Rasul Ar Risalah, Muhammad Baqir Shadr
  4. Cara Memahami Al Qur?an, S.M.H. Bahesti
  5. Hukum Perjudian dalam Islam, Sayyid Muhammad Shuhufi
  6. Harapan Wanita Masa Kini, Ali Shari?ati
  7. Hubungan Sosial Dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi
  8. Imam Khomeini dan Jalan Menuju Integrasi dan Solidaritas Islam, Zubaidi Mastal
  9. Islam Dan Mazhab Ekonomi, Muhammad Baqir Shadr
  10. Kedudukan Ilmu dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi
  11. Keluarga Muslim, Al Balaghah Foundation
  12. Kebangkitan Di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi
  13. Keadilan Ilahi, Nasir Makarim Syirazi
  14. Kenabian, Nasir Makarim Syirazi
  15. Kota Berbenteng Tujuh, Fakhruddin Hijazi
  16. Makna Ibadah, Muhammad Baqir Shadr
  17. Menuju Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi
  18. Mi?raj Nabi, Nasir Makarim Syrazi
  19. Nasehat-Nasehat Imam Ali, Non Mentioned
  20. Prinsip-Prinsip Ajaran Islam, SMH Bahesti
  21. Perjuangan Melawan Dusta, Bi?that Foundation
  22. Persaudaraan dan Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi
  23. Perjanjian Ilahi Dalam Al-Qur?an, Abdul Karim Biazar
  24. Rasionalitas Islam, World Shi?a Muslim Org.
  25. Syahadah, Ali Shari?ati
  26. Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem
  27. Sebuah Kajian Tentang Sejarah Hadis, Allamah Murthadha Al Askari
  28. Tauhid, Nasir Makarim Syirazi
  29. Wasiat Atau Musyawarah, Ali Shari?ati
  30. Wajah Muhammad, Ali Shari?ati
YAPI
Bangil
  1. Akal dalam Al-Kafi, Husein al-Habsyi
  2. Ajaran- ajaran Al-Quran, Sayid T Burqi & Bahonar
  3. Bimbingan Sikap dan Perilaku Muslim, Al Majlisi Al-Qummi
  4. Hawa Nafsu, M Mahdi Al Shifiy
  5. Konsep Ulul Amri dalam Mazhab-mazhab Islam, Musthafa Al Yahfufi
  6. Kumpulan Khutbah Idul Adha, Husein al-Habsyi
  7. Kumpulan Khutbah Idul Fitri, Husein al-Habsyi
  8. Metode Alternatif Memahami Al-Quran, Bi Azar Syirazi
  9. Manusia Seutuhnya, Murtadha Muthahhari
  10. Polemik Sunnah-Syiah Sebuah Rekayasa, Izzudddin Ibrahim
  11. Pesan Terakhir Rasul, Non Mentioned
  12. Pengantar Menuju Logika, Murtadha Muthahhari
  13. Shalat Dalam Madzhab AhlulBait, Hidayatullah Husein Al-Habsyi
Rosdakarya
  1. Catatan Kang Jalal, Jalaluddin Rakhmat
  2. Derita Putri-Putri Nabi, M. Hasyim Assegaf
  3. Fatimah Az Zahra, Jalaluddin Rakhmat
  4. Khalifah Ali Bin Abi Thalib, Jalaluddin Rakhmat
  5. Meraih Cinta Ilahi, Jalaluddin Rakhmat
  6. Rintihan Suci Ahlul Bait Nabi, Jalaluddin Rakhmat
  7. Tafsir Al fatihah: Mukaddimah, Jalaluddin Rakhmat
  8. Tafsir Bil Ma?tsur, Jalaluddin Rakhmat
  9. Zainab Al-Qubra, Jalaluddin Rakhmat
Al-Hadi
  1. Al-Milal wan-Nihal, Ja?far Subhani
  2. Buku Panduan Menuju Alam Barzakh, Imam Khomeini
  3. Fiqh Praktis, Hasan Musawa
CV
Firdaus
  1. Al-Quran Menjawab Dilema keadilan, Muhsin Qira?ati
  2. Imamah Dan Khalifah, Murtadha Muthahhari
  3. Keadilan Allah Qadha dan Qadhar, Mujtaba Musawi Lari
  4. Kemerdekaan Wanita dalam Keadilan Sosial Islam, Hashemi Rafsanjani(et. al)
  5. Pendidikan Anak: Sejak Dini Hingga Masa Depan, Mahjubah Magazine
  6. Tafsir Al Mizan: Ayat-ayat Kepemimpinan, S.M.H. Thabathaba?i
  7. Tafsir Al-Mizan: Surat Al-Fatihah, S.M.H. Thabathaba?i
  8. Tafsir Al-Mizan: Ruh dan Alam Barzakh, S.M.H. Thabathaba?i
  9. Tauhid: Pandangan Dunia Alam Semesta, Muhsin Qara?ati
  10. Al-Qur?an Menjawab Dilema Keadilan, Muhsin Qara?ati
Pustaka Firdaus
  1. Saat Untuk Bicara, Sa?di Syirazi
  2. Tasawuf: Dulu dan Sekarang, Seyyed Hossein Nasr
Risalah
Masa
  1. Akar Keimanan, Sayyid Ali Khamene?i
  2. Dasar-Dasar Filsafat Islam[2], Bahesty & Bahonar
  3. Hikmah Sejarah-Wahyu dan Kenabian [3], Bahesty & Bahonar
  4. Kebebasan berpikir dan Berpendapat dalam Islam, Murtadha Muthahhari
  5. Menghapus Jurang Pemisah Menjawab Buku al Khatib, Al Allamah As Shafi
  6. Pedoman Tafsir Modern, Ayatullah Baqir Shadr
  7. Kritik Terhadap Materialisme, Murtadha Muthahhari
  8. Prinsip-Prinsip Islam [1], Bahesty & Bahonar
  9. Syi?ah Asal-Usul dan Prinsip Dasarnya, Sayyid Muh. Kasyful Ghita
  10. Tauhid Pembebas Mustadh?afin, Sayyid Ali Khamene?i
  11. Tuntunan Puasa, Al-Balagha
  12. Wanita di Mata dan Hati Rasulullah, Ali Syari?ati
  13. Wali Faqih: Ulama Pewaris Kenabian,
Qonaah
  1. Pendekatan
    Sunnah Syi?ah, Salim Al-Bahansawiy
Bina Tauhid Memahami Al Qur?an, Murthadha Muthahhari
Mahdi Tafsir Al-Mizan: Mut?ah, S.M.H. Thabathabai
Ihsan Pandangan Islam Tentang Damai-Paksaan, Muhammad Ali Taskhiri
Al-Kautsar
  1. Agar Tidak Terjadi Fitnah, Husein Al Habsyi
  2. Dasar-Dassar Hukum Islam, Muhsin Labib
  3. Nabi Bermuka Manis Tidak Bermuka Masam, Husein Al Habsyi
  4. Sunnah Syi?ah Dalam Ukhuwah Islamiyah, Husain Al Habsyi
  5. 60 Hadis Keutamaan Ahlul Bait, Jalaluddin Suyuti
Al-Baqir
  1. 560 Hadis Dari Manusia Suci, Fathi Guven
  2. Asyura Dalam Perspektif Islam, Abdul Wahab Al-Kasyi
  3. Al Husein Merajut Shara Karbala, Muhsin Labib
  4. Badai Pembalasan, Muhsin Labib
  5. Darah Yang Mengalahkan Pedang, Muhsin Labib
  6. Dewi-Dewi Sahara, Muhsin Labib
  7. Membela Para Nabi, Ja?far Subhani
  8. Suksesi, M Baqir Shadr
  9. Tafsir Nur Tsaqalain, Ali Umar Al-Habsyi
Al-Bayan
  1. Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri, Ibrahim Amini
  2. Mengarungi Samudra Kebahagiaan, Said Ahtar Radhawi
  3. Teladan Suci Kelurga Nabi, Muhammad Ali Shabban
As-Sajjad
  1. Bersama Orang-orang yang Benar, Muh At Tijani
  2. Imamah, Ayatullah Nasir Makarim Syirazi
  3. Ishmah Keterpeliharaan Nabi Dari Dosa, Syaikh Ja?far Subhani
  4. Jihad Akbar, Imam Khomeini
  5. Kemelut Kepemimpinan, Ayatullah Muhammad Baqir Shadr
  6. Kasyful Asrar Khomeini, Dr. Ibrahim Ad-Dasuki Syata
  7. Menjawab Berbagai Tuduhan Terhadap Islam, Husin Alhabsyi
  8. Nabi Tersihir, Ali Umar
  9. Nikah Mut?ah Ja?far, Murtadha Al Amili
  10. Nikah Mut;ah Antara Halal dan Haram, Amir Muhammad Al-Quzwainy
  11. Surat-Surat Revolusi, AB Shirazi
Basrie
Press
  1. Ali Bin Abi Thalib di Hadapan Kawan dan Lawan, Murtadha Muthahhari
  2. Manusia Dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari
  3. Fiqh Lima Mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah
Pintu Ilmu Siapa,
Mengapa Ahlul Bayt, Jamia?ah Al-Ta?limat Al-Islamiyah Pakistan
Ulsa Press
  1. Mengenal Allah, Sayyid MR Musawi Lari
  2. Islam Dan Nasionalisme, Muhammad Naqawi
  3. Latar Belakang Persatuan Islam, Masih Muhajeri
  4. Tragedi Mekkah Dan Masa Depan Al-Haramain, Zafar Bangash
  5. Abu Dzar, Ali Syari?ati
  6. Aqidah Syi?ah Imamiyah, Syekh Muhammad Ridha Al Muzhaffar
  7. Syahadat Bangkit Bersaksi, Ali Syari?ati
Gua Hira
  1. Kepemimpinan
    Islam, Murtadha Muthahhari
Grafiti
  1. Islam Syi?ah: Allamah M.H. Thabathaba?i
  2. Pengalaman Terakhir Syah, William Shawcross
  3. Tugas Cendikiawan Muslim, Ali Syaria?ti
Effar
Offset
Dialog Pembahasan Kembali Antara Sunnah & Syi?ah Sulaim Al-Basyari & Syaraduddien Al ?Amili
Shalahuddin
Press
  1. Fatimah Citra Muslimah Sejati, Ali Syari?ati
  2. Gerbang Kebangkitan, Kalim Siddiqui
  3. Islam Konsep Akhlak Pergerakan, Murtadha Muthahhari
  4. Panji Syahadah, Ali Syari?ati.
  5. Peranan Cendekiawan Muslim, Ali Syari?ati
Ats-Tsaqalain Sunnah
Syi?ah dalam Dialog, Husein Al Habsyi
Pustaka Kehidupan
Yang Kekal, Morteza Muthahari
Darut
Taqrib
Rujuk
Sunnah Syi?ah, M Hashem
Al-Muntazhar
  1. Fiqh Praktis Syi?ah Imam Khomeini, Araki, Gulfaigani, Khui
  2. Ringkasan Logika Muslim, Hasan Abu Ammar
  3. Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem
  4. Tauhid: Rasionalisme Dan Pemikiran dalam Islam, Hasan Abu Ammar
Gramedia Biografi
Politik Imam Khomeini, Riza Sihbudi
Toha
Putra
Keutamaan
Keluarga Rasulullah, Abdullah Bin Nuh
Gerbang
Ilmu
Tafsir
Al-Amtsal (Jilid 1), Nasir Makarim Syirazi
Al-Jawad
  1. Amalan Bulan Ramadhan Husein Al-Kaff
  2. Mi?raj Ruhani [1], Imam Khomeini
  3. Mi?raj Ruhani [2] Imam Khomeni
  4. Mereka Bertanya Ali Menjawab, M Ridha Al-Hakimi
  5. Pesan Sang Imam, Sandy Allison (penyusun)
  6. Puasa dan Zakat Fitrah Imam Khomeini & Imam Ali Khamene?i
Jami?ah al-Ta?limat al-Islamiyah Tuntutan Hukum Syari?at, Imam Abdul Qasim
Sinar
Harapan
  1. Iran Pasca Revolusi, Syafiq Basri
  2. Perang Iran Perang Irak, Nasir Tamara
  3. Revolusi Iran, Nasir Tamara
Mulla
Shadra
  1. Taman Para Malaikat, Husain Madhahiri
  2. Imam Mahdi Menurut Ahlul Sunnah Wal Jama?ah, Hasan Abu Ammar
Duta Ilmu
  1. Wasiat Imam Ali, Non Mentioned
  2. Menuju Pemerintah Ideal, Non Mentioned
Majlis Ta?lim Amben 114 Hadis Tanaman, Al Syeikh Radhiyuddien
Grafikatama
Jaya
Tipologi Ali Syari?ati
Nirmala Menyingkap Rahasia Haji, Syeikh Jawadi Amuli
Hisab Abu
Thalib dalam Polemik, Abu Bakar Hasan Ahmad
Ananda Tentang Sosiologi Islam, Ali Syari?ati
Iqra Islam dalam Perspektif Sosiologi Agama, Ali Shari?ati
Fitrah Tuhan dalam Pandangan Muslim, S Akhtar Rizvi
Lentera
Antarnusa
Sa?di Bustan, Sa?di
Pesona Membaca Ali Bersama Ali Bin Abi Thalib, Gh R Layeqi
Rajawali
Press
  1. Tugas Cendekiawan Muslim, Ali Shari?ati
Bina
Ilmu
Demonstran Iran dan Jum?at Berdarah di Makkah, HM Baharun
Pustaka
Pelita
  1. 1. Akhirnya Kutemukan Kebenaran, Muh Al Tijani Al Samawi
  2. Cara Memperoleh Haji Mabrur, Husein Shahab
  3. Fathimah Az-Zahra: Ummu Abiha, Taufik Abu ?Alama
  4. Pesan Terakhir Nabi, Non Mentioned
Pustaka
  1. Etika Seksual dalam Islam, Morteza Muthahhari
  2. Filsafat Shadra, Fazlur Rahman
  3. Haji, Ali Syari?ati
  4. Islam dan Nestapa Manusia Modern, Seyyed Hosein Nasr
  5. Islam Tradisi Seyyed, Hosein Nasr
  6. Manusia Masa Kini Dan Problem Sosial, Muhammad Baqir Shadr
  7. Reaksi Sunni-Syi?ah, Hamid Enayat
  8. Surat-Surat Politik Imam Ali, Syarif Ar Radhi
  9. Sains dan Peradaban dalam Islam, Sayyed Hossein Nasr
Pustaka Jaya Membina Kerukunan Muslimin, Sayyid Murthadha al-Ridlawi
Islamic Center Al-Huda
  1. Jurnal Al Huda (1)
  2. Jurnal Al Huda (2)
  3. Syiah Ditolak, Syiah Dicari, O. Hashem
  4. Mutiara Akhlak Nabi, Syaikh Ja?far Hadi
Hudan
Press
  1. Tafsir Surah Yasin, Husain Mazhahiri
  2. Do?a-Do;a Imam Ali Zainal Abidin
Yayasan Safinatun Najah
  1. 1. Manakah Jalan Yang Lurus (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan
  2. Manakah Jalan Yang Lurus (2), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan
  3. Manakah Jalan Yang Lurus (3), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan
  4. Manakah Shalat Yang Benar (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan
Amanah Press Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari
Yayasan Al-Salafiyyah Khadijah Al-Kubra Dalam Studi Kritis Komparatif, Drs. Ali S. Karaeng Putra
Kelompok
Studi Topika
Hud-Hud
Rahmaniyyah, Dimitri Mahayana
Muthahhari
Press/Muthahhari Papaerbacks
  1. Jurnal Al Hikmah (1)
  2. Jurnal Al Hikmah (2)
  3. Jurnal Al Hikmah (3)
  4. Jurnal Al Hikmah (4)
  5. Jurnal Al Hikmah (5)
  6. Jurnal Al Hikmah (6)
  7. Jurnal Al Hikmah (7)
  8. Jurnal Al Hikmah (8)
  9. Jurnal Al Hikmah (9)
  10. Jurnal Al Hikmah (10)
  11. Jurnal Al Hikmah (11)
  12. Jurnal Al Hikmah (12)
  13. Jurnal Al Hikmah (13)
  14. Jurnal Al Hikmah (14)
  15. Jurnal Al Hikmah (15)
  16. Jurnal Al Hikmah (16)
  17. Jurnal Al Hikmah (17)
  18. Shahifah Sajjadiyyah, Jalaluddin Rakhmat (penyunting)
  19. Manusia dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari
  20. Abu Dzar, Ali Syariati
  21. Pemimpin Mustadha?afin, Ali Syariati
Serambi
  1. Jantung Al-Qur?an, Syeikh Fadlullah Haeri
  2. Pelita Al-Qur?an, Syeikh Fadlullah Haeri
Cahaya Membangun
Surga Dalam Rumah Tangga, Huzain Mazhahiri
(Non Mentioned)
  1. Sekilas Pandang Tentang Pembantain di Masjid Haram, Non Mentioned
  2. Jumat Berdarah Pembantaian Kimia Rakyat Halajba 1988, Non Mentioned
  3. Al-Quran dalam Islam, MH Thabathabai
  4. Ajaran-Ajaran Asas Islam, Behesti
  5. Wacana Spiritual, Tabligh Islam Program
  6. Keutamaan Membaca Juz Amma, Taufik Yahya
  7. Keutamaan Membaca Surah Yasin, Waqiah, Al Mulk, Taufik Yahya
  8. Keutamaan Membaca Surah Al-Isra & Al-Kahfi, Taufik Yahya
  9. Bunga Rampai Keimanan, Taufik Yahya
  10. Bunga Rampai Kehidupan Sosial, Taufik Yahya
  11. Bunga Rampai Pendidikan, Husein Al-Habsyi
  12. Hikmah-Hikmah Sholawat ,Taufik Yahya
  13. Bunga Rampai Pernikahan, Taufik Yahya
  14. Hikmah-Hikmah Puasa, Taufik Yahya
  15. Hikmah-Hikmah Kematian, Taufik Yahya
  16. Wirid Harian, Non Mentioned
  17. Do?a Kumay,l Non Mentioned
  18. Do?a Harian, Non Mentioned
  19. Do?a Shobah, Non Mentioned
  20. Do?a Jausyan Kabir, Non Mentioned
  21. Keutamaan Shalat Malam Dan Do?anya, Non Mentioned
  22. Do?a Nutbah, Non Mentioned
  23. Do?a Abu Hamzah Atsimali, Non Mentioned
  24. Do?a Hari Arafah (Imam Husain), Non Mentioned
  25. Do?a Hari Arafah (Imam Sajjad), Non Mentioned
  26. Do?a Tawassul, Non Mentioned
  27. Do?a Untuk Ayah dan Ibu, Non Mentioned
  28. Do?a Untuk Anak, Non Mentioned
  29. Do?a Khatam Qur?an, Non Mentioned
  30. Doa Sebelum dan Sesudah Baca Qur?an, Non Mentioned
  31. Amalan Bulan Sya?ban dan Munajat Sya?baniyah, Non Mentioned
    sumber; https://aslibumiayu.wordpress.com

Syiah Mulai Menebarkan Pemikiran Melalui Penerbit-Penerbit Yang Mereka Miliki,..


Waspada Penerbit buku syiah di indonesiaPERHATIKAN BUKU YANG ANDA BELI….!
SYI’AH (Indonesia :Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia) MULAI MENYEBAR Di TOKO-TOKO BUKU SELURUH INDONESIA…,MAKA. HATI – HATI-LAH….Jangan Terpengaruh dengan Tulisan Redaksi-nya Yang Meyakinkan
Bismillah, Alhamdulillah.
semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.
Amma ba’du :
Akhir – akhir ini menurut pengamatan kami, penerbit – penerbit buku – buku Islam yang berjalan diatas jalan Ahlus Sunnah, sudah mulai mengendor didalam menyebarkan buku – buku yang bermanfaat.
Hal inilah yang menjadikan musuh – musuh Islam & dari Kalangan Munafikun berkesempatan menyelip dan menyebarkan paham mereka di negeri ini. Dengan membuat buku dan mengedar luaskan nya.
Beberapa tahun ini, memang kebangkitan keilmuan Islam di Negeri Indonesia ini, alhamdulillah sangat terasa sekali, dengan menyebarnya kajian – kajian ilmiah, dan dibuka nya ma’had – ma’had islam, dan diterbitkan nya majalah – majalah yang bermanfaat.
Ketika seseorang Muslim berjalan kesebuah toko buku untuk membeli buku tentang agama nya, bisa saja dia terfitnah dan terkena syubhat ajaran Syi’ah. Dimana buku – buku mereka sekarang merak beredar di toko – toko buku umum. Bahkan tiap bulan nya, ada 3 atau 5 buku yang masuk dan beredar di toko buku umum, seperti di toko buku Gramedia,Gunung Agung dan yang lain nya.
Maka sudah saat nya, seperti nya kami membuka beberapa hasil dari penelitian kami terhadap buku – buku terjemahan dan peredaran. Terutama untuk membendung ajaran Syi’ah dan memperingatkan bahayanya kepada kaum Muslimin.
Dahulu buku – buku syi’ah banyak masuk ke penerbit – penerbit umum, sehingga sulit untuk diketahui apakah penerbit itu syi’ah atau bukan. Sekarang Alhamdulillah, Allah telah membuka makar mereka, dan penerbit syi’ah mempunyai ciri khas tersendiri yang mana orang awam pun bisa mengetahui nya. Berikut nama penerbit Syi’ah yang terus menerus menyebarkan buku syi’ah dengan berbagai judul dan ciri – ciri nya.
PERTAMA :
Pustaka Lentera.
Diantara buku nya yang berbahaya adalah Fiqih 5 Madzhab karya salah seorang ulama syi’ah yang bernama Muhammad Jawad Al-Mughniyah.
Buku ini telah berhasil menipu orang – orang, sehingga sebagian orang ada yang mengatakan syi’ah termasuk madzab didalam islam.
KEDUA :
Pustaka Sadra Press.
Penerbit syi’ah ini adalah penerbit syi’ah generasi lama sama seperti lentera, diantara buku mereka yang berbahaya adalah Keindahan dan Keagungan Perempuan karya salah seorang ulama syi’ah yang bernama Jawadi Amuli.
KETIGA :
Pustaka Az-Zahra.
Diantara buku nya yang berbahaya adalah Bersama Orang-Orang Yang Benar karya ulama syi’ah Muhammad at Tijani as Samâwi.
KEEMPAT :
Pustaka Al-Huda.
Diantara buku nya yang berbahaya adalah Mazhab Pecinta Keluarga Nabi karya salah seorang ulama syi’ah yang bernama Sayyid Muhammad Al Musawi.
Buku ini juga telah berhasil menipu orang – orang, sehingga mereka menyangka bahwa syi’ah adalah kelompok pencinta keluarga nabi dan ahlul bait, padahal kenyataan nya sebaliknya, syi’ah adalah kelompok yang membenci ahlul bait, bahkan mereka mencela dan mengkafirkan ahlul bait nabi, seperti Abu Bakar, Umar, Aisyah dan sebanyak nya.
KELIMA :
Pustaka Nur al-Huda.
Ini termasuk penerbit Syi’ah yang baru – baru ini muncul. Diantara buku mereka yang berbahaya adalah Tanyalah pada Ahli nya karya salah seorang ulama syi’ah yang bernama Muhammad Tijani Al-Samawi.
KEENAM :
Pustaka Citra (Gria Aksara Hikmah).
Ini juga termasuk penerbit Syi’ah yang baru – baru ini muncul. Diantara buku nya yang baru terbit adalah Tafsir Holistik karya salah seorang ulama syi’ah yang bernama Murtadha Muthahhari.
KETUJUH :
Pustaka Ahlul Bait Indonesia.
Ini juga termasuk penerbit syi’ah yang baru – baru ini muncul, dan buku nya yang paling berbahaya adalah Buku Putih Mazhab Syiah menurut Ulama Syiah yang Muktabar. Buku ini berisikan kedustaan dan hendaklah seorang Muslim berhati – hati terhadap buku ini. Sayang nya Tokoh yang di katakan oleh orang Indonesia, Ulama Tafsir, malah memberi pengantar terhadap buku ini. Ini menunjukkan ada sesuatu pada aqidah tokoh ini.
4 penerbit terakhir inilah (Pustaka Al-Huda, Pustaka Nur al-Huda, Pustaka Citra, dan Pustaka Ahlul Bait Indonesia) yang selalu gencar didalam menyebarkan buku – buku syi’ah dengan berbagai judul, baik yang bisa menipu orang, maupun yang jelas – jelas kesyi’ahan nya.
Adapun ciri – ciri buku Syi’ah -alhamdulillah- sangat mudah dikenali :
1. Penulis nya sering memakai gelar Ayatullah.
2. Suka berlebih – lebihan didalam memuji Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu, dengan sebutan IMAM ALI bin ABI THALIB.
3. Bisa diketahui dengan melihat penerbit nya.
4. Dan terakhir inilah ciri – ciri penerbit syi’ah yang ada disemua penerbit nya yang Syi’ah selalu mempromosikan website mereka :
ICC
Islamic Center Cultural
www.iccjakarta.com
gambar logo nya bisa antum lihat di foto yang saya upload ke profil ini. Setiap penerbit syi’ah, baik Pustaka al-Huda, Nur al-Huda, Citra dan lain nya, selalu memakai logo ini dan mencantumkan website ini. Untuk menyebarkan ajaran mereka.
Dan hendaklah seorang Muslim berhati – hati terhadap buku – buku mereka, jangan tertipu dengan indah nya judul yang mereka tawarkan, dan resensi yang mereka berikan. Karena diantara ajaran syi’ah adalah dusta, yakni menampakkan kebenaran dan menyembunyikan kesesatan.
berhati – hatilah.
semoga bermanfaat.
Abu Abdillah Prima Ibnu Firdaus al-Mirluny Kota Jambi, 28 Shafar 1434 H / 10 Januari 2013 M
Tambahan : Untuk di kota bandung ada penerbit syiah yang cukup besar, yaitu Penerbit MIZAN.
Bandung merupakan salah satu kota dengan populasi syiah terbesar di indonesia. Mereka mendirikan  sekolah yang bernaung dibawah Yayasan Almuthahhari, banyak kaum muslimin yang tidak mengetahui masalah ini, karena mereka terpukau dengan prestasi yang diraih oleh sekolah , dan karena keawaman mereka tentang hakekat pemahaman syiah.
sumber;https://aslibumiayu.wordpress.com

Dewan Da’wah dan HMI Desak Pemerintah Tinjau Ulang Buku Pelajaran Berbau Syiah


BUKU Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMK Kelas XI kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga terindikasi ikut menyebarkan pemahaman Syiah.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Dewan Da’wah Kabupaten Aceh Barat Daya Ustad. Iin Supardi,SS.M.E.I kepada serambi indonesia dalam rilisnya ia memaparkan tentang ketidaklayakan buku tersebut menjadi referensi mengajar dan pembelajaran untuk kalangan siswa di sekolah, Ini kelihatan sangat jelas sekali materi tersebut mengandung pemahaman prinsipil syiah.
Di halaman lima pada buku tersebut, tertulis makna kosakata “ulil amri” dalam Surat An Nisa ayat 59: yang oleh penulis, yang terdiri dari Hj. Iim Halimah; H. Abd. Rahman; H.A. Sholeh Dimyathi; dan H. Ridhwan itu menjelaskan makna “ulil amri” sebagai berikut:
Para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Ada yang berpendapat bahwa maksud kata ‘penguasa’ adalah imam-imam di kalangan ‘ahlul bait’ (keluarga Nabi saw. Dari keturunan Ali dan Fatimah), ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah ‘penyeru-penyeru’ pada kebaikan dan ada pula yang berpendapat ‘pemuka-pemuka agama yang diikuti kata-katanya’.
Jika dianalisa dari tulisan Buku tersebut ini menunjukkan bahwa mereka telah memperkenalkan paham prinsipil syiah, walaupun tidak secara tegas.
Di kesempatan yang lain Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Blangpidie Bob Fakhrulrazi secara tegas mengkritik penerbitan buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMK kelas XI Kurikulum 2013 yang terindikasi mengandung pengenalan paham Syiah melalui siswa.
“Kita tidak mengetahui secara mendalam maksud dari beredarnya paham syiah dalam materi buku tersebut, kalau ingin mengetahui secara mendalam perlu mendengarkan klarifikasi oleh pihak Penerbit Erlangga itu sendiri, dan kita sangat menunggu untuk diklarifikasi. Ini bukan perkara kecil namun sangat sensitif di dalam masyarakat, khususnya di Aceh yang kental dengan nilai-nilai Islam Sunni,” ujarnya panjang lebar dalam keterangannya kepada Islampos, Ahad (24/8).
Kedua organisasi tersebut sepakat mengusulkan kepada pemerintah untuk membentuk Badan Sensor Buku sekolah sehingga hal serupa tidak lagi terjadi, siswa sangat sensitif dengan apa yang didapatkan dari berbagai materi yang diajarkan karena akan menjadi sebuah pemahaman mendasar juga mempengaruhi keyakinan pemahaman Islam yang benar pada siswa.
Untuk itu Kedua lembaga tersebut mengajak segenap masyarakat untuk pro aktif menjaga kemurnian nilai Islam pada keluarga terutama kalangan remaja dan anak.
“Ini adalah tanggung jawab kita bersama, terlebih Kepada MPU, Kemenag, Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, serta Dinas Pendidikan Kab/kota seluruh Aceh dan Dinas Syariat Islam serta Badan Pendidikan Dayah harus memanggil Penerbit Erlangga untuk dilakukan klarifikasi, sangat disayangkan apabila buku pelajaran disusupi hal-hal yang merusak kemurnian nilai Islam di bumi Aceh yang dikenal dengan Serambi Mekkah dan Syariat Islam,” terangnya.
Kepada penerbit Erlangga kedua lembaga mendesak untuk sesegera mungkin menarik peredaran buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti pada jenjang SMK Kelas XI kurikulum 2013 yang telah beredar di sekolah dan Toko Buku Di seluruh Aceh.
sumber; https://www.islampos.com

Berdiri Sekolah Tinggi Filsafat Islam Pertama, Dinilai ‘Berbau’ Syiah

Image
Hidayatullah – Mengaku sempat terseok-seok selama dua tahun akibat kendala perizinan, akhirnya Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STIF) Sadra resmi berdiri tahun ini.
Lembaga yang berdiri di bawah naungan Yayasan Hikmat Al Mustafa Jakarta ini diresmikan oleh Prof. M. Zein, selaku pewakilan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kemenag.
Dalam pernyataannya, M. Zein semp, sat memberikan apresiasi terhadap sekolah filsafat ini. Ia bahka berharap STFI Sadra dapat menjadi kebanggaan umat Islam dalam mempelajari filsafat, al-Qur’an dan Hadits.
“Rasulullah bersabda ambillah hikmah dar imanapun asalnya,” ujarnya saat launching di Gedung Sucofindo, Jakarta Selatan, Kamis, (12/07/2012) kemarin.
Acara dihadiri oleh Wakil Menteri Agama, Prof Dr Nasarudin Umar dan Perwakilan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Prof M. Zein. Juga dihadiri Dewan Penyantun STFI Sadra, Prof. Umar Shihab, Ketua STFI Sadra Umar Shahab dan Direktur Mizan Dr Haidar Bagir,  dan sejumlah pembicara beserta undangan.
Sementara itu Profesor Ahmad Fazeli, Ketua Yayasan Hikmat Al Mustafa turut berterimakasih kepada Kementerian Agama (Kemenag) yang mengeluarkan izin sekolah filsafat ini. Ia berharap smoga STFI Sadra memberikan sumbangan pemikir bagi perkembangan negeri ini.
Beberapa dosen di Sekolah ini di antaranya Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Prof Dr. Abdul Hadi MM, Dr. Haidar Bagir (Mizan), Dr Umar Shahab, Dr. Muhsin Labib, Dr. Zainal Abidin Bagir (Center for Religious and Cross-Cultural Studies/CRCS), Dr Donny Gahral Adaian, Prof. Dr Rosikhon Anwar (Guru Besar Ilmu Al-Quran UIN Sunan Gunung Djati Bandung) juga Dr. Khalid Walid, alumnus dari Hawzah Ilmiah Qom, Iran.
Ahmad Jubaili, Ketua Tim Perumus Kurikulum dikutip radio Iran, IRIB, mengatakan, kuliah yang disusun dirancang secara integral, saling terkait. Kampus ini menurutnya merupakan tempat kajian ilmiah yang merujuk pada Filsafat Mulla Sadra yang mampu menggabungkan seluruh pendekatan keilmuan, terutama teologi, filsafat dan Tasawuf.
Mulla Shadra mempunyai nama lengkap Shadr al Din Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Yahya Qawami al Syiraz, seorang filsuf terbesar mazhab Syiah Imamiyah.
Sekolah ini dikembangkan dengan model boarding (berasrama) yang direncanakan menampung setiap tahun 80 mahasiwa laki-laki dan perempuan yang direkruit secara ketat dari sekolah terbaik (SMA, Pesatren) di seluruh Indonesia. Mahasiswa yang lulus seleksi di beri beasiswa secara penuh selama  7 tahun.
Sementara itu, Fahmi Salim, MA, Wakil Sekjen Majelis (Waskjen) Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, serta Komisi Pengkajian di MUI Pusat mengatakan, dari bentuknya, lembaga ini dinilai dekat dengan Syiah.
“Karena selama ini, gerakan Syiah masuk melalui filsafat,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Jumat (13/07/2012) siang.*

Syiah Indonesia Launcing Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra


Bersamaan dengan digelarnya Seminar Internasional & Penganugrahan Sadra Award, Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra dilauncingkan di Gedung Graha Sucofindo, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (12/7). Wakil Menteri Agama (Wamenag) Republik Indonesia Prof Dr Nasaruddin Umar, MA terlihat hadir dalam acara tersebut sebagai Keynote Speaker.
Seperti halnya Sekolah Tinggi Driyarkara, tempat belajar Filsafat Kristen, STFI Sadra yang berlokasi di Jl. Pejaten Raya No. 19, Pasar MInggu, Jakarta Selatan ini merupakan sekolah Filsafat Islam pertama kali di Indonesia. Di sekolah ini terdapat k urikulum Filsafat Islam yang disinergikan dengan kurikulum bermuatan kearifan lokal, nasional dan Internasional.
Menurut Haidar Bagir, sekolah ini dikembangkan dengan model bording (asrama mahasiswa) yang direncanakan menampung setiap tahun 80 mahasiwa laki-laki dan perempuan yang direkruit secara ketat dari sekolah terbaik (SMA, Pesatren) di seluruh Indonesia. Mahasiswa yang lulus seleksi di beri beasiswa secara penuh selama  7 tahun. Kampus ini menurutnya merupakan tempat kajian ilmiah yang merujuk pada Filsafat Mulla Sadra yang mampu menggabungkan seluruh pendekatan keilmuan, terutama teologi, filsafat dan Tasawuf.
Sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Hikmat al-Mustafa. Lembaga ini didirikan atas dasar cita-cita untuk mencurahkan diri dalam penyelidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam, dimulai dari periode awal hingga saat ini. Cita-cita tersebut bersifat religius dan spiritual, moral dan intelektual, teoritis serta praktis.
Prof Nasarudin Umar dalam sambutannya mengatakan, STFI adalah lembaga yang paling komprehensif, yang mengitregasikan kajian dasar Islam dengan kajian tafsir dan filsafat Islam.
Sedangkan Umar Sahab, Ketua STFI Sadra menjelaskan, sekolah ini mengintegrasikan antara filsafat dan al-Quran sebagai basik pengetahuan Islam, filsafat dijadikan sebagai metode memahami al-Quran.
Pada tahap awal, STFI Sadra berencana akan membuka 4 (empat) program studi, akan tetapi dua prodi yang diizinkan oleh kementerian Agama; yaitu Program studi Filsafat Islam dan Program Studi Ilmu Alqur’an dan Tafsir.
Dalam seminar internasional turut diundang sejumlah pembicara antara lain: Prof. Dr. Quraisy Shihab, Prof. Dr. Karim Doughlas Crom, Prof Dr Dede Rosyada MA, Dr Haidar Bagir, Prof Dr Azhar Arsyad (Guru Besar UIN Alauddin-Makasar),  Prof. Dr. Amin Abdullah (UIN Sunan Kalijaga).
Dosen pengajar di kampus ini antara lain: Prof. Dr. Mulyadhi Kertanegara, Dr. Haidar Bagir, Dr. Kholid al-Walid, Dr. Muhsin Labib, Abdullah Beik MA, Dr. Zaenal Bagir, Dr. Umar Shihab, Prof. Dr. Abdul Hadi WM dan sebagainya.
sumber;https://masjidalalaatamanteratai.wordpress.com

Waspadalah! Ajaran Syiah Kembali Masuk ke Buku Pelajaran Sekolah

Guru madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kota Jambi kaget buku Sejarah Kebudayaan Islam Semester Genap Kelas X terdapat gambar penistaan terhadap Umar bin Khatab, Khalifah kedua yang juga sahabat Nabi Muhammad SAW. Gambar tersebut berada di halaman 12 buku yang diterbitkan oleh Rahma Media Pustaka.

Di halaman yang menerangkan tentang masa kepemimpinan Umar bin Khattab yang merupakan satu di antara Khulafaur Rasyidin itu diterangkan nasab atau garis keturunan dari Umar. Nasab yang digambarkan dengan silsilah keluarga yang berbentuk garis keturunan tersebut, tiba pada tulisan Umar digambarkan dengan bentuk yang mirip karikatur babi. Padahal, di atasnya nasab keluarga digambarkan dengan gambar menyerupai hati.

Pada keterangan nasab dengan gambar hitam putih ini diterangkan gambar tersebut juga diambil dari sumber ihadist.blogspot.com yang diakses pada 18 Desember 2014 pada pukul 13.55.

Kepala Sekolah MAN 3 Kota Jambi, M. Zakri mengaku kaget, pasalnya gambar tersebut jika tidak diperhatikan memang tidak terlihat menyerupai babi. Namun ketika diperhatikan bidang lonjong tersebut terlihat adanya empat kaki, dilengkapi kuping, mata dan muncung hewan yang mirip babi yang sedang tersenyum.

“Sekilas memang tidak terlihat, tapi jika diperhatikan memang seperti itu,” katanya seperti diberitakan Jambi Independent.

Pihak sekolah sebutnya juga baru menyadari beberapa minggu ini, “Dua minggu ini baru kita tahu, setelah ada guru yang memperhatikan,” katanya.

Meski para siswa tidak menyadari adanya gambar yang kontroversial tadi, namun adanya gambar itu telah meresahkan guru. “Kenapa tidak gunakan perumpamaan lain, itu yang kita sesalkan,” sebutnya.

Buku yang diambil dari distributor penerbit yang ada di Jambi ini menurut Zakri bakal segera ditarik dan tidak lagi dipergunakan.

“Akan kita tarik, yang punya LKS ini akan kita panggil, karena ini meresahkan, seperti ini kan gambarnya seperti penghinaan pelecehan harusnya tidak perlu ada gambar seperti ini,” sebutnya.

Meski ada gambar yang disebut melecehkan sahabat nabi namun menurut Zakri isinya tidak menyebutkan adanya penistaan terhadap sahabat tersebut. Dikatakan Zakri baru kali ini pihak sekolah menggunakan buku yang merupakan edisi I seri Pakem kelas 10 semester genap ini.

Di dalam lembar ke 12 LKS tersebut, digambarkan Umar bin Khatab sebagai seekor babi.




Ini cukup mengejutkan banyak pihak. Termasuk pihak Dinas Pendidikan Kota Jambi. “Astagfirullah, saya akan cek ke rekan di Depag,” ujar Sofyan, Sekretaris Diknas Kota Jambi.

Muhammad Iqbal, Kepala Kantor Departemen Agama (Depag) Kota Jambi juga mengaku terkejut dengan kabar ini. Menurutnya, tidak tahu apa maksud dari LKS tersebut menggambarkan Umar bin Khatab sebagai seekor babi.

“Saya baru lihat tadi LKS-nya, saya panggil kepala sekolah. Saya lihat, dan saya terkejut, apa maksudnya buku ini,” kata Iqbal.

Dia juga mengatakan, segera rapat dengan pihak terkait mengenai LKS tersebut. Langkah yang diambil kemarin, pihaknya langsung menginstruksikan penarikan LKS dari semua siswa. Mulai hari ini, LKS tersebut tidak boleh lagi beredar.

“Kami juga akan surati sekolah-sekolah lainnya untuk memberi peringatan agar jeli dalam menggunakan LKS. Jangankan gambar, narkoba pun bisa diselipkan dalam buku,” ujarnya sedikit emosi.

Iqbal mengatakan untuk penggunaan LKS murni kebijakan sekolah. Depag, menurutnya tidak tahu-menahu mengenai pemesanan LKS, sehingga pihaknya tidak bisa mengawasi penerbit mana yang ditunjuk untuk mengisi kebutuhan LKS di sekolah-sekolah.

Untuk MAN 3 ini sendiri, LKS SKI kelas X yang digunakan adalah keluaran penerbit Rahma Media Pustaka dari Semarang. LKS tersebut ditulis oleh Dr. Fattah Syukur, M.Ag. “Yang menulis dosen IAIN. Setelah ditarik, LKS tersebut dikembalikan ke sana,” katanya.
sumber;http://www.syiahindonesia.com/2015

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf

Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 11:47
Keberadaan ICC bentuk intervensi pemerintah Iran kepada Indonesia
Ustadz Farid Ahmad Okbah (kanan)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Islamic Cultural Center (ICC) lembaga di bawah Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang beralamat di Jalan Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat, merupakan lembaga yang diduga kuat mengintervensi pemerintah Indonesia.
“Di dalam dokumen resmi milik ICC ada ungkapan starategi nomor lima yang isinya mempublikasikan setiap wacana keislaman yang konstruktif dan revolusioner dalam berbagai bentuknya,” papar Ustadz Farid Ahmad Okbah di hadapan anggota Komis VIII DPR, Jakarta Rabu (1/2/2015).
Hal ini bisa perorangan, bisa kelompok, bisa lembaga bisa negara karena memang Iran telah menetapkan ekspor revolusinya. “Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka,” tambahnya.
Ustadz yang getol mendakwahkan bahaya Syiah ini memaparkan, bahawa dalam dokumen ICC juga tertulis, “Dalam bidang humas dan komunikasi menyebarkan pamflet, poster,stiker, selebaran dakwah dan iklan layanan masyarakat dan membangun jaringan antar lembaga ahlul bait (syiah) dengan lembaga keagamaann lainnya baik dalam dan luar negeri pengiriman mubaligh dan mubalighah ke daerah-daerah” .
“Tentunya ini bentuk intervensi Iran terhadap Indonesia,” kata Ustadz yang sejak tahun 1980 mempelajari sepak terjang Syiah di Indonesia ini.
Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini juga menyebut sudah ada 1000 lebih buku Syiah berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Alhuda di bawah payung ICC.
Sementara negara Iran sendiri undang-undang dasarnya berdasarkan Islam Syiah Imamiyah 12 imam. “Otomatis yang diluar Syiah tidak diakui oleh Iran,” jelas Ustadz Farid.
Pada kesempatan itu Ustadz farid menekankan pula kepada anggota Komisi VII, masalah Syiah adalah masalah keamanan, politik dan intervensi asing terhadap kedaulatan NKRI.
Fakta lapangan yang dikemukakan tersebut ternyata sejalan dengan Majelis Ulama Indonesia yang memandang akar masalah menjamurnya Syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Dalam konteks ini Majelis Ulama Indonesia meminta kepada pemerintah RI membatasi kerjasama bilateral hanya dalam bidang politik dan ekonomi-perdagangan, dan tak merambah bidang pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Seperti dimaklumi bahwa perkembangan infiltrasi ajaran Syiah di Indonesia masuk melalui ketiga jalur tersebut. Kebijakan politik itu perlu diambil segera oleh pemerintah RI Cq Kementrian Luar Negeri RI, Kementrian Agama RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghentikan laju perkembangan gerakan Syiah di Indonesia yang dirasakan sangat meresahkan umat Islam di Indonesia, berpotensi mengancam stabilitas Negara, dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. (Lihat buku: Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, hal 131).
Puluhan ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII DPR dan diterima oleh anggota dewan di Ruang Mahkamah Kehormatan Dewan. Mereka datang untuk mengadukan penodaan agama yang dilakukan oleh Syiah di berbagai daerah di Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya KH. Athian Ali Dai (Ketua ANNAS) Habib Ahmad Zein Al AKaff (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), Farid Ahmad Okbah (pimpinan Pesantren Al Islam), KH. Atip Latiful Hayat, SH.LLM, PH.D (Calon Kandidat HakimAgung), Prof Asep Warlan Yusuf (Guru Besar Ilmu Hukum Unpar), KH. Lailurrahman (BASRA), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), KH Ali Kharar (Ulama Madura), Amin Djamaluddin (LPPI), dan masih banyak lagi. Fahmi Salim Lc, MA (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/02/05/keberadaan-icc-bentuk-intervensi-pemerintah-iran-kepada-indonesia.html#sthash.Eyy8b2s0.dpuf