Jumat, 12 Juni 2015

Perang Besar Al Malhamah Kubro antara Rum dan Muslimin


Setelah peperangan dengan bangsa Persia ini berakhir dengan kemenangan, umat Islam kembali ke Madinah, namun bangsa Rum berkhianat dengan mengambil alih Syria dan hartanya dan berkata “salib telah menang”, maka berangkatlah pasukan terbaik dari Madinah untuk berperang dengan bangsa Rum.

Romawi akan menyerangmu hingga mereka berkemah di Al-A’maq, di Syam. Jadi pasukan dari Madinah akan menghadang mereka dan mereka adalah umat yang terbaik pada saat itu. Kemudian Romawi meminta umat muslim untuk menyerahkan orang-orang Romawi yang menjadi muallaf dan ingin membunuh pula orang-orang Khuz dan Kirman (atau orang-orang dari koalisi lain lawan tanding Rum pada perebutan 2 harta simpanan) yang telah menjadi muallaf yang pernah menjadi musuh dalam perang mereka yang istilahnya “pernah menawan kami”. Tetapi umat muslim tidak mau menyerahkan mereka, karena orang-orang Romawi dan Khuz dan Kirman yang muallaf itu sudah menjadi saudara kita dalam Islam.

Akhirnya mereka berperang, sepertiga dari pasukan umat Muslim lari ketakutan/kalah, Allah SWT tidak akan pernah menerima taubat mereka. Sepertiga pasukan lagi akan terbunuh dan mereka adalah syuhada terbaik di mata Allah SWT, dan sepertiga terakhir akan memperoleh kemenangan. Golongan sepertiga yang akan menang ini, tidak ada fitnah yang akan menimpa mereka selamanya. Seperti digambarkan hadis dibawah ini :

Tidak akan terjadi hari kiamat hingga bangsa Romawi turun ke medan perang di suatu tempat bernama A'maq atau Dabiq, sehingga ada sekelompok pasukan dari Madinah yang keluar menghadapi mereka. Mereka adalah sebaik-baik penduduk bumi ketika itu. Dan tatkala mereka berhadapan, pasukan Romawi berkata: 'Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang menawan kami! 'Kaum muslimin menjawab: 'Tidak, demi Allah, kami tak akan membiarkan kalian memerangi saudara-saudara kami.' Maka terjadilah peperangan antara mereka. Lalu ada sepertiga yang kalah dimana Allah tak akan mengampuni dosa mereka untuk selamanya, dan sepertiga lagi terbunuh sebagai sebaik-baik para syuhada' di sisi Allah, dan sepertiga lagi Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Mereka tak akan ditimpa sebuah fitnah untuk selamanya, lalu selanjutnya mereka menaklukkan kostantinopel. Dan ketika mereka sedang membagi-bagi harta rampasan perang dan tengah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon zaitun, tiba-tiba setan meneriaki mereka 'Sesungguhnya Al Masih telah muncul di tengah-tengah keluarga kalian, 'merekapun berhamburan keluar, dan ternyata itu hanyalah kebohongan belaka. Ketika mereka mendatangi Syam, ia muncul. Dan ketika mereka sedang mempersiapkan peperangan dan sedang merapikan barisan, tiba-tiba datanglah waktu shalat, dan turunlah Nabi Isa bin Maryam Shallallahu 'alaihi wa Salam, lalu ia mengimami mereka. Dan apabila musuh Allah (Dajjal) melihatnya, niscaya ia akan meleleh sebagaimana garam yang mencair di dalam air, meskipun seandainya saja ia membiarkannya nantinya ia juga akan meleleh lalu binasa akan tetapi Allah menginginkan ia membunuhnya dengan tangannya lalu memperlihatkan kepada mereka darahnya yang berada di ujung tombaknya. [HR. Muslim No.5157]

Malhamah Kubra terjadi di A'maq dan Dabiq (Damaskus). Ini merupakan pertempuran terdahsyat antara Al-Mahdi (Imam Mahdi) dengan Rum, dimana mereka mengerahkan 80 bendera yang setiap bendera terdiri dari 12.000 tentara atau 960.000 prajurit. Perang Al-Malhamah Kubra terjadi selama beberapa hari berturut-turut saja, dimana 1/3 dari kaum muslimin melarikan diri dari pertempuran, yang mana dosa mereka tidak akan diampuni oleh Allah. Dan 1/3 lagi mendapatkan syahid, dan sisanya yang 1/3 akan mendapatkan kemenangan yang mana mereka tidak akan tersesat untuk selama lamanya. (Shahih Muslim dalam Al-Fitan wa Asyratus sa'ah 18/21-22)

Pada tiap hari ada sepasukan tentara Mahdi yang saling membai’at untuk maju berperang dan tidak mundur hingga menang atau mati syahid, pasukan berani mati ini mendapat syahidnya dengan sangat memuaskan yang akhirnya mendatangkan kemenangan untuk sepertiga pasukan Muslim lainnya.

Pertempuran paling besar akan berkecamuk di Syiria, dekat kota Damaskus, yakni disuatu tempat yang bernama A’maq dan Dabiq: “Kiamat takkan terjadi sehingga bangsa Romawi singgah di Al-A’maq* atau di Dabiq*. Lalu mereka diserbu oleh balatentara dari Madinah, yang merupakan penduduk dunia yang terbaik waktu itu. (Muslim bin Hajjaj dari Abu Hurairah RA) *Al-A’maq dan Dabiq adalah nama dua tempat di Syria dekat kota Halab (Alepo).

Tentara Mahdi dengan izin Allah SWT memenangkan pertempuran ini, dan diantara bangsa Rum yang tertawan ada yang kembali menjadi Muallaf lagi. Tentara Mahdi pun mengambil alih harta karun di Iraq (gunung emas Efrat) dan membagi-bagikannya sama rata kepada ramai kaum Muslimin. Harta putih (permata) telah hilang akibat kelalaian orang-orang yang kalah.

Peringatan akan ghanimah ini, pastikan dahulu musuh mundur/kalah baru berpikir ghanimah setelah kemenangan telah pasti. Jangan sampai kalian dari 1/3 yang kalah ini. Dua pendapat yang dimaksud kalah ini, yaitu : karena melarikan diri dari medan pertempuran atau karena akibat keburu dahuluan tergiur harta ghanimah akhirnya menjadi kekalahan fatal (lihat hadis tentang 2 harta simpanan (emas dan permata)) diatas “Dan aku tidak akan membiarkan kalian hancur dalam masa satu tahun musim kering, dan tidak membiarkan para musuh mengalahkan kalian kecuali sebab diri mereka sendiri hingga hilanglah harta yang berwarna putih (permata) itu. Walau musuh berkumpul dari segala penjuru (dalam riwayat lain disebutkan, "berkumpul di segala penjuru") hingga kemudian mereka saling menghancurkan diri mereka sendiri (saling memerangi) dan saling menawan”, seperti contoh kekalahan di kisah perang Uhud.

...dari Abu Sa'id al-Kudri radiallahu anhuma, ia berkata; Rosulullah shallallahu allaihi wa sallam bersabda: "Aku sampaikan kabar gembira kepada kalian dengan datangnya al-Mahdi yang akan di utus ketika manusia sedang di landa perselisihan dan kegoncangan-kegoncangan, dia akan memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya bumi di penuhi dengan penganiayaan dan kezaliman. seluruh penduduk langit dan bumi menyukainya, dan dia akan membagi-bagikan kekayaan secara tepat". lalu ada seseorang yang bertanya kepada beliau, "apakah yang di maksud dengan shihah?" beliau menjawab, "merata di antara manusia" dan selanjutnya beliau bersabda, "dan Allah akan memenuhi hati umat Muhammad shallallahu allahi wa sallam dengan kekayaan, dan meratakan keadilan kepada mereka seraya memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan: 'siapakah yang membutukan harta?' maka tidak ada seorang-pun yang berdiri kecuali satu, lalu al-Mahdi berkata, 'datanglah kepada bendahara dan katakanlah kepadanya, 'sesungguhnya al-Mahdi menyuruhmu memberi uang' kemudian bendahara berkata, 'ambilah sedikit!' sehingga setelah di bawanya ke kamarnya, dia menyesal seraya berkata, 'saya adalah umat Muhammad shallallahi alaihi wa sallam yang hatinya paling rakus, atau saya tidak mampu mencapai apa yang mereka capai' lalu ia mengembalikan uang tersebut, tetapi di tolak seraya di katakan kepadanya, 'kami tidak mengambil apa yang telah kami berikan' begitulah kondisinya waktu itu yang akan berlangsung selama tujuh, delapan, atau sembilan tahun. kemudian tidak ada lagi kebaikan dalam kehidupan sesudah itu." di kutip dari terjemah kitab Asyratu al-Sa'ah karya Yusuf Wabil dengan judul terjemah Yaumul Qiyamah hal 248-249 qisthi prees cetakan pertama. di situ disebutkan perihal hadis ini; Musnad Ahmad 3:37. al-Haitsami berkata, "diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lainya secara ringkas, dan di riwayatkan oleh Imam Ahmad dengan berbagai sanad, juga di riwayatkan oleh Abu Ya'la dengan ringkas, dan perawi-perawinya terpercaya." Majma'uz Zawaid 7:313-314. dan periksalah "Aqidatu Ahlis Sunnah wal Atsar fi al-Mahdi al-Muntazhar" hal 177 karya Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad

Saat setelah perang ini, pasukan Muslim berbenah diri karena banyak kerusakan akibat perang yang hebat ini. Daerah Syam, akan menjadi kota reruntuhan dan akan ditempati kembali sebagai pusat komando tentara Muslim dan masa perang melawan Rum ini adalah masa mendekati akhir dari rangkaian 3 tahun kemarau, setelah mungkin ada lagi tawanan yang menjadi Muallaf, barulah terjadi “matahari terbit dari barat” batas dimana tidak diterimanya keimanan seseorang yang belum pernah beriman sebelumnya dan batas tidak ada syahadat baru untuk masuk Islam.
Selang tak lama sesudah kejadian ini, batas rangkaian 3 tahun kemarau berakhir dan Dajjal pun muncul dan melakukan perjalanan 40 harinya di bumi, masa pembenahan dan istrahat buat umat Islam dari perang selama ½ atau 1 tahun dan mendiami kembali reruntuhan kota-kota Syam yang telah runtuh namun juga menjadi masa krisis mengerikan karena hadirnya Dajjal. Bagaimana umat Islam tahu bila waktu itu Dajjal telah mulai dinas keliling dunia adalah karena adanya hari yang terjadi selama setahun sebagai tanda-tanda kemunculannya.
Selang beberapa bulan dari perang melawan Rum (pada masa sehari seperti satu tahun atau sehari seperti satu bulan dari Dajjal), dan juga setelah pembenahan dan persiapan perang selesai dimana kekuatan dan pusat komando disiapkan di Syria, berangkatlah satuan pasukan bani Ishaq menuju ke Konstantinopel untuk membebaskannya. Dajjal pada waktu itu masih sedang dinas keliling dunia dan telah berhasil memberi solusi krisis dan menyatukan lagi semua koalisi-koalisi bangsa-bangsa dari perpecahannya dalam satu koalisi besar yang akan disiapkan Dajjal untuk melawan kaum Islam kembali, ambisi Dajjal akan berkenaan dan sesuai dengan keinginan balas dendam dari bangsa-bangsa yang pernah kalah, yang melimpahkan seluruh kesalahan kepada umat Islam, dimana koalisi ini akan lebih besar berlipat kali jumlah pasukannya dari pada pasukan Rum yang kalah waktu itu. Hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi dari rencana Dajjal. Dan umat Islam akan melihat Yakjuj dan Makjuj ini.
sumber;http://manfaatputih

Kamis, 11 Juni 2015

Mengapa Hafalan dan Ingatan Ku Lemah ?

Salah seorang dari kawan facebook saya bertanya, "kiban caranyoe pue-pue yang lon hafai siat kagadoeh, pue na ubat inan" (Bagaimana  caranya ini apa yang saya hafal cepat sekali hilang, apakah ada obat di situ). Kira-kira begitulah pertanyaan yang beliau lemparkan.

Lupa merupakan sebuah penyakit yang terdapat pada setiap individu. Bahkan salah satu bala yang selalu menggerogoti penuntut ilmu adalah lupa. Jikalau tidak ada penyakit lupa maka sungguh akan banyak orang pandai di dunia ini. Namun, satu hal yang harus kita yakini. Ketika Allah SWT memberikan sebuah penyakit, maka Allah juga telah menyediakan obatnya.
Suatu ketika di sela-sela belajar guru kami meriwayatkan sebuah perkataan yang sangat elok. Guru kami Tgk H Hatta bin Muhammad Affan meriwayatkan perkataan tersebut dari maha gurunya, Tgk H Ibrahim Bardan (Abu Panton). Beliau berkata," Bahwasanya setiap manusia mempunyai dua otak. Pertama quwwatul a'qilah (otak untuk berfikir/mengingat) dan kedua quwwatul hafizah (otak untuk menghafal).
Quwwatul a'qilah adalah otak depan, yaitu yang terletak dekat dahi. Sedangkan quwwatul hafizah adalah otak yang terletak di belakang. Setiap manusia mempunyai kedua otak tersebut. Yang pertama digunakan manusia untuk memikir sesuatu hal, dan yang kedua digunakan untuk menyimpan data (flashdisk).
Maka tak heran jika kita mendapat keluhan dari kawan-kawan kita mengenai lemahnya ingatan dan hafalan. Karena pada hakikatnya ingatan dan hafalan memang akan mengalami naik turunnya dalam kehidupan. Kadang-kadang seseorang lebih kuat ingatannya ketimbang hafalan. Dan kadang-kadang lebih kuat hafalannya dari pada ingatan. Bahkan ada juga yang memiliki hafalan dan ingatan yang sama-sama kuat.
Manusia yang memiliki ingatan kuat (quwwatul a'qilah) kebanyakannya terdiri dari ulama mantiq atau filosofis. Karena ilmu tersebut mengandalkan pikiran yang membuat mereka terus berfikir. Sedangkan manusia yang memiliki hafalan kuat (quwwatul hafizah) kebanyakan mereka terdiri dari ahli hadist. Karena ilmu yang mereka tekuni mendorong mereka untuk terus menghafal dan mengingat.
Tidak ada orang yang tidak memiliki hafalan dan ingatan. Hatta orang gila sekalipun pasti ada yang ia hafal dan ia ingat. Namun tingkat lemah dan kuatnya hafalan dan ingatan ini yang menjadi sirkulasi dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu apa indikator yang membuat hafalan dan ingatan kita lemah?
Pertama maksiat, Imam Asy Syafi'i suatu ketika mengadu kepada gurunya Imam Waqi' mengenai lemahnya hafalan. Lalu sang guru mewasiatkan kepada Imam Syafi'i untuk menjauhkan maksiat. Maksiat yang dimaksud adalah segala larangan yang dikerjakan oleh seluruh organ tubuh, baik maksiat mata, hati, telinga, tangan, kaki, dan lain sebagainya.
Kedua karena jarang diulang, ketika suatu ilmu yang kita temukan dan kita membiarkannya bersembunyi di dalam kepala kita tanpa mengulang dan memberikannya kepada orang lain, maka lambat waktu dia akan menghilang dengan sendirinya. Aristoteles mengatakan, "Pusat keunggulan adalah pengulagan." Maka mengulang apa yang sudah kita ketahui adalah satu solusi untuk membuat ingatan hafalan kita hidup.
Ketiga  mengkonsumsi makanan yang berminyak, Imam Jarnuji dalam karyanya 'Ta'lim Al-Mutaalim' memberikan sebuah kode etik untuk melancarkan hafalan dan ingatan kepada para penuntut ilmu. Beliau berkata jauhilah makanan yang berminyak. Karena makanan berminyak akan membuat kamu pilek dan berdahak. Berdahak adalah satu parasit yang membuat hafalan dan ingatan tersendat.
Keempat mengkonsumsi makanan yang haram, ilmu adalah cahaya Allah, cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat. Oleh karena itu jauhilah makanan yang haram. Sebagaimana kebenaran tidak akan bersatu dengan kebatilan, begitu juga ilmu tidak akan bersatu dengan maksiat.
Membuat Hafalan dan Ingatan Lancar
Memiliki hafalan dan ingatan yang kuat adalah idaman semua orang. Lebih-lebih lagi penuntut ilmu, memiliki hafalan dan ingatan yang kuat merupakan sebuah mementum untuk mewujudkan semangat belajar menuju tirai kesuksesan. Lalu apa saja yang harus kita lakukan supaya ingatan dan hafalan kita selalu on.
Pertama berdoa, sebelum dan sesudah belajar jangan lupa berdoa kepada Allah agar apa yang sudah kita ketahui selalu teringat dan tidak lupa. Karena pertolongan Allah amat dekat dengan orang-orang yang melakukan hal-hal kebajikan dan kebaikan.
Ke dua sering mengulang dan mutalaa'h, apa yang sudah kita ketahui sering-seringlah diulang kembali. Atau sekurang-kurangnya membagi kepada kawan-kawan kita yang tidak tahu. Karena pada hakikatnya ilmu itu akan semakin bertambah dengan memberi, berbeda dengan harta yang mengurang di saat kita beri.
Ketiga bagikan waktu belajar dan mengulang, misalnya sesudah subuh kita gunakan waktu untuk meghafal dan belajar. Maka gunakan waktu setelah asar untuk mengulang kembali apa yang sudah kita belajar tadi subuh. Jika hal seperti ini terus kita lakukan maka ilmu yang kita miliki, hafalan yang sudah kita miliki akan bersatu dengan darah daging kita yang sulit untuk berpisah.
Semoga tulisan ini akan memberi sedikit pencerahan bagi saya pribadi dan bagikawan-kawan semua, khususnya bagi sipenanya.
sumber;http://ebdulhamed

ALIRAN SESAT

Dewasa ini semakin maraknya aliran-aliran yang menyimpang dari ajaran islam membuat masyarakat dan khususnya umat islam, geram karena aliran-aliran sesat berkembang begitu pesatnya di nusantara ini.
Kemunculan aliran-aliran sesat dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu :
1. Kurangnya pemahaman agama lebih lagi karna lemahnya aqidah
Banyak dari para pemimpin-pemimpin aliran-aliran sesat dan begitu pula pengikutnya hanya mehami islam dari beberapa segi saja (tidak keseluruhan) tetapi dengan pengetahuannya yang kurang mumpuni mereka(para pemimpin)denagn berani membuat sebuah langkah baru yang berbeda dengan ajran aslinya yang banyak menyesatkan masyarakat aam yang tergiur oleh rayuan-rayuan setan dalam bentuk manusia
1. Masalah yang membebani akal manusia dan yang tidak mempunyai keimanan yang kuat akan mudah goyah dalam situasi genting
Masalah yang ada di republic ini yang samin bertambah tidak ditemukannya solusi yang berdampak terhadap masyarakatnya terutama masalah ekonomi yang tak kunjung usai seakan-akan membuat gila permanent “jenuh yang memuncak” pada sebagian masyarakat yang mungkin menurut saya hal ini menjadi factor munculnya aliran sesat di bumi pertiwi ini
Himbauan demi himbauan tidak dihiraukan sehingga tindakan preventive dan tindakan expressive harus diterapkan serta pemberian solusi yang tepat.
# Tindakan yang harus dilakukan adalah
1. Pemberantasan aliran-aliran sesat
2. Penyadaran terhadap pelaku penyimpangan dalam penistaan ajaran agama
# Solusi –solusi
1. Memberikan penyuluhan keaagamaan yang mudah dimengerti dan mengasyikkan
Pertama
Dengan bahasa yang mudah dicerna masyarakat lebih paham daripada mungkin ada sebagian da’I yang menggunakan bahasa terlalu tinggi yang jarana dimengerti untuk masyarakat-masyarakat pada umumnya membuat ajaran yang disampaikannya tidak efektif.
Kedua
Dibuatlah ceramah yang menyenangkan dan mengasyikkan tapi tetap dalam koridor agama sehingga di harapkan banyak materi yang membekas dalam diri jama’ah yang mendengarkan. Karena hal yang menyenangkan membuat diri relax dan dengan itu fikiran hati bisa tenang, santai sehingga ilmu bisa mudah merasuk dalam jiwa seseorang dan hal perlu di ketahui peristiwa yang dibarengi emosi akan mudah di ingat dan akan lama tersimpan dalam memori manusia terutama hal yang indah dan menyenangkan.
1. Menangkap para pemimpin aliran sesat dan diberikannya penyuluhan tentang ajaran agama yang kaffah
Diharapkan dengan adanya unek-unek ini bisa dijadikan masukan yang membangun demi terciptanya Indonesia yang bersih dari ajaran aliran-aliran sesat. Amin
sumber;facebook psm

Kamis, 04 Juni 2015

MALU



BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Rasulullah SAW bersabda, ”Hendaklah kamu merasa malu kepada Allah SWT
dengan malu yang sebenarnya.” Para sahabat menjawab, ”Ya Nabiyullah,
alhamdulillah kami sudah merasa malu.” Kata Nabi, ”Tidak segampang itu. Yang dimaksud dengan malu kepada Allah SWT dengan sebenarnya malu adalah kemampuan kalian memelihara kepala beserta segala isinya, memelihara perut dan apa yang terkandung di dalamnya, banyak-banyak mengingat mati dan cobaan (Allah SWT). Siapa yang menginginkan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang telah mengamalkan demikian, maka demikianlah malu yang sebenarnya kepada Allah SWT.” (HR Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud).
Hadis tersebut menggambarkan betapa besarnya manfaat rasa malu dalam
mengontrol kehidupan seorang Muslim. Mulai dari cara berpikir dan apa yang
dipikirkan, cara menjaga perut dari makanan haram, sampai sikap hidup yang
senantiasa ingat pada kematian, bisa dimasukkan sebagai refleksi dari rasa malu kepada Allah SWT.
Semakin tinggi rasa malu seseorang kepada Allah SWT, semakin terjaga ia dari
perbuatan salah, semakin terpelihara ia dari makanan haram, dan semakin ingat ia akan kefanaan dunia yang melenakan. Sebaliknya, semakin hilang rasa malu pada seseorang, semakin tak terkontrol perilakunya, semakin terbiasa dengan makanan haram, dan semakin lupa dengan akhirat.
Nabi Muhammad SAW pernah menjelaskan bahwa memelihara rasa malu kepada Allah SWT akan mendatangkan kebaikan, baik bagi orang yang memeliharanya maupun bagi orang lain. Sabda beliau, ”Malu tak akan datang kecuali dengan kebaikan.” (HR Muslim dari Imran ibn Husein). Dengan kata lain, rasa malu akan mendidik seorang Muslim untuk menjaga perilaku, sikap, maupun ucapan. Menurut Buya Mawardi Muhammad dalam Kitab Jawahir Alhadits, rasa malu merupakan sesuatu yang mencegah seorang Mukmin dari perbuatan dosa lantaran takut kepada Allah SWT. Ada ataupun tidak ada orang lain yang melihat, ia tetap berpegang pada keyakinan bahwa Allah SWT senantiasa mengawasinya. Dia akan senantiasa menyadari bahwa tak ada satu ruang pun yang luput dari pengamatan Allah SWT.
Sedangkan kalau malu hanya berpatokan pada pandangan manusia, maka hal itu akan melahirkan manusia-manusia yang bersikap munafik. Di depan banyak orang, dia akan bersikap baik, santun, ramah, dan sebagainya. Begitu tidak terlihat banyak manusia, dia akan berkhianat, korupsi, menyengsarakan orang lain, serta melakukan kejahatan lainnya.
Rasa malu merupakan identitas bagi setiap Muslim. Rasulullah SAW bersabda, ”Bagi setiap agama ada akhlak. Akhlak agama Islam adalah malu.” (HR Malik dari Zaid ibn Thalhah). Artinya, rasa malu merupakan bagian yang tak boleh terpisahkan dari diri setiap Muslim.
Begitu hilang rasa malunya, maka hilang pula kepribadiannya sebagai seorang
Muslim. Ia akan terbiasa berbuat dosa, baik terang-terangan maupun  tersembunyi. Makanya, sangat wajar jika Rasulullah SAW murka terhadap orang yang tak punya rasa malu.
Wallahu a’lam.

Senin, 01 Juni 2015

Trilogi Kisah Iran dan Daulah Shafawi: Republik Syiah Iran, Daulah Shafawi Modern (3/3)


Telah kita simak di tulisan-tulisan sebelumnya bagaimana Daulah Shafawiyah didirikan, ideologi yang mereka sebarkan, dan kebijakan-kebijakan yang mereka terapkan terhadap umat Islam di negaranya maupun di dunia secara umum. Di era modern ini, ada sebuah negara yang mengusung ideologi sama dengan Daulah Shafawi yakni ideologi Syiah, negara tersebut menamakan diri mereka dengan Republik Islam Iran.
Terletak di geografi yang sama dengan pusat pemeritanhan Daulah Shafawi, Iran berusaha menggantikan peranan kerajaan Syiah di abad pertengahan itu dengan mengaplikasikan kebijakan keluarga Shafawi di era modern ini. Pada tulisan ketiga ini, topik utamanya adalah tentang siapakah yang memerintah Iran. Dengan mengetahui siapakah yang memerintah Iran, akhirnya penulis serahkan kepada para pembaca menggeliat dalam daya kritisnya mendudukkan posisi Iran di dunia Islam atau bahkan politik internasional.
Khomeini Pemimpin Revolusi
Pada tahun 1979, Khomeini memimpin revolusi Syiah di Iran yang menggulingkan diktator Syah Pahlevi. Dengan jatuhnya Syah Pahlevi, tokoh utama Syiah ini menduduki posisi tertinggi di tanah Persia tersebut. Khomeini memiliki kekuasaan sebagai tokoh politik dan juga memegang otoritas penuh dalam permasalahan agama, bisa Anda bayangkan betapa besarnya kekuasaan yang dipegang Khomeini. Namun ternyata kekuasaan yang dimilikinya tidak membuatnya lebih baik dari Syah Pahlevi, bahkan Khomeini lebih diktator dibanding pendahulunya ini.
Pada masa pemerintahannya, Khomeini memunculkan sebuah konsep baru dalam tatanan negara Iran, ia menamakan konsep dengan wilayatul faqih. Wilayatul faqih adalah sebuah otoritas yang semestinya disandang oleh imam ma’shum (yang terjaga dari dosa). Orang-orang Syiah meyakini kema’shuman Ali bin Abi Thalib, kedua putranya Hasan dan Husein, kemudian para imam dari keturunan Husein bin Ali radhiallahu ‘anhuma yang mereka sebut dengan imam yang dua belas. Namun, pada masa imam ke-11, Imam Hasan al-Askari wafat pada tahun 260 H, ia wafat dalam keadaan tidak ada seorang yang disebut imam ma’shum. Syiah pun berpecah menjadi banyak kelompok karena permasalahan ini. Di antara kelompok tersebut adalah Syiah Itsna Asyariyah (Syiah 12 imam).
Syiah Itsna Asyariyah meyakini bahwa Imam al-Askari menunjuk anaknya yang masih kecil, yang usianya belum genap 5 tahun, sebagai imam ma’shum penerusnya. Kemudian imam ke-12 memasuki sebuah ruangan bawah tanah dan menghilang. Orang-orang Syiah 12 imam meyakini bahwa sang imam masih berada di tempatnya dan akan keluar di akhir zaman kelak. Dialah yang disebut Mahdi al-Muntazhar (sang Mahdi yang ditunggu). Menurut keyakinan Syiah tidak diperbolehkan mendirikan negara, menunjuk pemimpin, menegakkan syiar-syiar agama, berjihad, dll. tanpa adanya komando dari Imam Mahdi yang masih ditunggu kehadirannya. Nah di sinilah wilayatul faqih hasil ijtihad dari Khomeini memainkan peranannya.
Wilayatul Faqih
Khomeini membuat wilayatul faqih yang ia anggap memiliki fungsi yang sama dengan funsi imamah (kepemimpinan para imam) di saat mereka ada –mendirikan negara, mengangkat pemimpin, dll.-. Imamah juga memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kenabian. Kenabian terbatas oleh waktu-waktu tertentu sedangkan imamah terus belangsung hingga sekarang. Dari sini, muncul klaim yang lancang dari Khomeini dalam bukunya al-Hukumah al-Islamiyah, ia mengatakan, “Salah satu hal yang penting dalam madzhab kami bahwa para imam memiliki kedudukan yang tidak dicapai oleh seorang malaikat yang paling mulia dan nabi-nabi yang diutus.”. Maksudnya imam kami lebih mulia dari malaikat yang paling mulia sekalipun semisal Jibril dan lebih mulia dari para nabi-nabi termasuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh karena itu, ketaatan kepada wilayatul faqih adalah ketaatan yang mutlak. Doktrin ini benar-benar menjadikan kekuasaan Khomeini adalah kekuasaan yang absolut lebih dari diktator Syah Pahlevi bahkan lebih diktator dari diktator-diktator Arab semisal Husni Mubarak, Muamar Kadafi, Sadam Husein, dll. karena kebijakan wilayatul faqih adalah kebijakan para imam ma’shum atau bahkan kebijakan Tuhan, melanggarnya berarti melanggar perintah imam ma’shum atau perintah Tuhan. Tidak ada seorang diktator pun semisal nama-nama di atas menyebutkan bahwa melanggar perintah mereka berarti melanggar perintah Tuhan. Tidak heran, ulama-ulama Syiah yang menjabat di wilayatul faqih termasuk Khomeini digelari “ayatollah” sebagai legalisasi kebijakan-kebijakan dan image di mata rakyat. Agar kediktatoran wilayatul faqih sedikit tertutupi, maka ditunjuklah seorang presiden yang dikesankan sebagai pemimpin Negara Iran.
Sebagai contoh bahwa presiden Iran tidak memiliki otoritas terhadap negaranya dan wilayahtul faqih lah yang memiliki peranan. Pasca revolusi, Iran dipimpin oleh Presiden Bani Sadr. Ia memenangkan pemilu dengan mendapatkan 78,9 %. Ia bukanlah seorang mullah (pemuka agama), ia seoarang ekonom lulusan dari Universitas Sorbone, Paris, Perancis. Dengan suara yang begitu besar Bani Sadr mengira ia akan begitu leluasa menenutkan kabinetnya. Namun suara kemenangan yang begitu besar itu tidak berarti apa-apa, Sadr tidak memiliki daya dan upaya sedikit pun menentukan kebijakan pemerintahannya. Setiap permasalahan kecil maupun besar haruslah sesuai dengan yang digariskan oleh Khomeini sang pemimpin revolusi. Satu tahun menjabat sebagai presiden Iran, Bani Sadr pun dilengserkan oleh parlemen. Ini nasib seorang presiden yang tidak sejalan dengan Khomeini dan wialyatul faqihnya walaupun suaranya pendukungnya luar biasa besar, 78,9%.
Ahlussunnah di Masa Republik Syiah Iran
Ahlussunnah di Iran memiliki nasib yang tidak jauh berbeda dengan Ahlussunnah di masa Daulah Shafawi. Mereka mengalami penyiksaan, dijebloskan ke penjara, dan dibunuh, mereka yang bebas pun hidup layaknya di penjara tidak memiliki kebebasan. Semua itu dengan sebab mereka seorang Ahlussunnah wal Jamaah atau Sunni.
Di Teheran, ibu kota Iran, tidak ada satu pun masjid Ahlussunnah yang diperkenankan untuk didirikan, padahal ada 7 juta orang Sunni yang berdomisili di kota ini. Sedangkan orang-orang Nasrani saja memiliki 12 gereja dan Yahudi diizinkan membangun 4 tempat ibadah di ibu kota negeri para mullah ini (Ahwal Ahlussunnah fi Iran, Hal. 45-73).
Demikianlah ketika ideologi Daulah Shafawi dan Iran saat ini sama, maka kebijakan yang dilakukan pun akan sama yang membedakan hanyalah cara penerapannya karena menyesuaikan perkembangan zaman.
Sumber:http://kisahmuslim.com

Trilogi Kisah Iran dan Daulah Shafawi: Bersama Kristen Eropa Memerangi Turki Utsmani (2/3)


Tidak berlebihan jika kita katakan berdirinya Daulah Shafawi di Iran merupakan bencana bagi umat Islam secara umum dan Iran secara khusus. Iran yang selama 900 tahun merupakan wilayah Sunni yang banyak menyumbang nilai-nilai peradaban Islam dan mencetak imam-imam besar Ahlussunnah wal Jamaah semisal Imam Bukhari dan Muslim dalam ilmu hadist, Imam Syibaweih dan al-Farahidi dalam ilmu gramatika bahasa Arab, al-Biruni dalam ilmu-ilmu eksak, dll. Namun, dengan berdirinya Daulah Syiah Shafawi di Iran, jejak-jejak kemajuan yang sudah digariskan oleh ilmuan-ilmuan Islam berubah arah. Arah kemajuan yang selama ini telah dicapai, berubah menjadi ketidakstabilan karena gejolak permusuhan dan konflik.
Pemaksaan doktrin Syiah oleh anak keturanan Shafiyuddin Ishaq al-Ardabili di wilayah Iran yang tatkala itu mayoritas Sunni membuahkan ketidak-adilan, pertumpahan darah, dan pembantaian.
Jadi, perhatikanlah sejarah Syiah di Iran selama masa pemerintahan Daulah Shafawiyah (907-1148 H/1507-1735 M). Kebijakan mereka adalah menindas Ahlussunnah wal Jamaah di wilayah mereka, menampakkan permusuhan dan peperangan terhadap Turki Utsmani, dan menjalin kerja sama dengan negara-negara Salib Eropa.
Kebijakan Terhadap Ahlussunnah wal Jamaah
Kebijakan Daulah Shafawi terhadap umat Islam dapat kita ketahui dengan melihat muamalah mereka terhadap penduduk Kota Tabriz, kota besar yang mayoritas penduduknya adalah Ahlussunnah wal Jamaah. Ketika pendiri Daulah Shafawi, Ismail ash-Shafawi, masuk ke Kota Tabriz, maka bagi siapa yang menyelisihi dan menolak ajaran Syiah, ia akan berhadapan dengan kematian. Diriwayatkan bahwa jumlah penduduk Tabriz yang terbunuh saat itu lebih dari 20.000 orang dalam keadaan dirusak anggota tubuhnya (al-Khouli, 1981: 51).
Pembantaian terhadap umat Islam oleh Daulah Shafawi tidak hanya berhenti di Tabriz, setelah menderita kekalahan dari Uzbek di Kota Mahmud Abad –sebuah daerah dekat dengan Kota Mour-, Ismail ash-Shafawi melampiaskan kekesalannya dengan membantai penduduk Kota Mour. Ia mengumumkan ideologi resmi daerah tersebut adalah Syiah dan memaksa penduduk setempat yang mayoritas Sunni berubah menjadi Syiah. Untuk itu ia mengganti kurikulum di sekolah-sekolah dengan akidah Syiah dan menyebarkannya di kalangan masyarakat (Fauzi, ash-Shafawiyun, akhbaraka.net).
Pada masa Syah Abbas I, ia melarang penduduk Iran untuk menunaikan haji ke Mekah al-Mukaromah dan memaksa penduduknya untuk berziarah ke makam Imam Ali bin Musa ar-Ridha di kota suci Syiah, Kota Masyhad di Iran. Kebijakan ini dilakukan agar penduduk Iran tidak masuk ke wilayah Kerajaan Sunni Turki Utsmani dan membayar visa perjalanan ke kerajaan Sunni tersebut (Jum’ah, 1980: 101).
Terlalu banyak kisah-kisah intimidasi, pembunuhan, dan pelanggaran hak-hak asasi yang dilakukan oleh Daulah ash-Shafawi terhadap umat Islam untuk kita tuliskan satu per satu harus di artikel yang singkat ini. Cukuplah tiga contoh di atas menjadi pelajaran bagi kita betapa keras permusuhan Syiah terhadap umat Islam terlebih ketika mereka memegang kekuasaan.
Kerja Sama Daulah Shafawi dengan Eropa
Persekongkolan Daulah Syiah Shafawi dengan orang-orang Salib telah terjadi sejak mula. Khalifah pertama mereka, Ismail ash-Shafawi telah menjalin kontak kerja sama militer dengan pemerintah Portugal melalui Alfonso de Alburqueque. Kerja sama itu berlanjut pada masa Syah Abbas I, bahkan kerja sama ini memasuki ranah yang lebih sensitif yakni masalah keyakinan. Syah Abbas I adalah khalifah Shafawi yang pertama yang mengizinkan pembangunan gereja di wilayahnya, ia juga mengundang para misionaris dari kalangan pendeta dan biarawan untuk mendakwahkan agama Kristen di wilayahnya. Syah Abbas I benar-benar memuliakan semua orang Eropa yang datang ke negerinya, termasuk para pedagang Eropa. Para pedagang ini mendapat perlakuan khusus dengan dibebaskan dari pajak (Makarios, 2003: 154-156). Sejak saat itu, datanglah berduyun-duyun para penguasa dan pedagang Kristen Eropa ke tanah Iran.
Ketika dua orang utusan Inggris; Antonio Sherly dan Robert Sherly, datang ke Iran, Syah Abbas I sangat memuliakannya dan memerintahkan semua orang di kerjaan Shafawi untuk memuliakan dua orang tamu dari Inggris ini. Utusan Inggris ini datang ke Iran dalam rangka menjalin kerja sama militer antara kedua kerajaan ini. Inggris bersedia melatih militer Shafawi untuk berperang melawan Utsmani. Selain itu Inggris juga menggalang suara negara-negara Eropa untuk bersekutu dengan Shafawi memerangi Utsmani (Makarios, 2003: 154-156). Bahkan Iran sendiri mengadakan pendekatan dengan Paus Roma untuk mencari simpatik negara-negara Kristen Eropa dalam membantu misinya menghancurkan Turki Utsmani.
Paus Paul V pun mengirim surat kepada Syah Abbas I sebagai jawaban dan sambutannya atas keinginan Syah Abbas I menaklukkan Turki Utsmani. Dalam suratnya Paus Paul V menyatakan:
– Betapa inginnya Paus Paul V turut andil dalam melemahkan Turki Utsmani, dan betapa ia menginginkan mewujudkan hal tersebut. Paus akan berusha menyatukan raja-raja Kristen agar menjadi satu aliansi dalam memerangi Turki Utsmani dari arah Barat dan Syah Abbas dari arah Timur.
– Paus akan mengirimkan para insinyur dan ahli militer ke Iran untuk memperkuat militer Iran.
– Paus meminta agar Iran dan Roma aktif saling mengirimkan duta-duta mereka terkait permasalahan ini.
– Paus meminta agar Syah Abbas I bersikap lemah lembut terhadap umat Nasrani di Iran dan selain Iran, tidak menghukum orang Islam yang murtad ke agama Kristen, dan tidak memaksa orang Kristen masuk ke dalam Islam (Jum’ah, 1980: 271-272).
Inilah beberapa kerja sama yang dilakukan orang-orang Syiah Shafawi dengan orang-orang non-Islam untuk menghancurkan simbolisasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah pada abad pertengahan Turki Utsmani. Demikian juga halnya pada era modern ini, betapa giatnya Iran sebagai simbolisasi Syiah di dunia menghancurkan simbolisasi Ahlussunnah yaitu Kerajaan Arab Saudi. Mereka menghancurkan image negeri sunnah ini melalui pemberitaan-pemberitaan negatif yang membuat umat Islam tidak simpatik bahkan benci terhadap negara Ahlussunnah ini. Iran juga melakukan tipu daya, tampil seolah-olah merekalah pahlawan Islam di era modern saat ini dengan lantang melawan Amerika dan Israel walaupun kenyataannya negara Syiah ini sama sekali belum pernah menuntaskan retorika mereka dengan peperangan.
Ibnu Taimiyah memberikan paradigma yang baik sekali tentang sikap Syiah terhadap umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Ia mengatakan, “Rafidhah (Syiah) itu menjadikan orang-orang yang memerangi Ahlussunnah sebagai teman; mereka bekerja sama dengan Tatar dan Nasrani. Mereka juga menjalin perdamaian dengan orang-orang Eropa… …Apabila umat Islam menang atas Tatar, mereka (Syiah) pun berduka dan bersedih. Sebaliknya, kalau Tatar yang menang, mereka bersuka cita dan bahagia…” (Ibnu Taimiyah, 28: 336-337).
Di tengah bencana dan musibah yang diberikan oleh Syah Abbas I terhadap dunia Islam, Republik Syiah Iran sekarang ini malah menganggap tokoh antagonis ini sebagai pahlawan nasional mereka, mengangkat derajat negara mereka, mewujudkan harapan, dan symbol perlawanan terhadap muslim Sunni.
Penutup
Syiah kembali mengulangi seajrah mereka, bekerja sama dengan orang-orang yang memusuhi Islam untuk menghancurkan umat Islam. Contoh nyata adalah apa yang dilakukan oleh negara Irak saat ini dengan pemimpin Syiah mereka Presiden Nouri al-Maliki.
Pemerintah Irak bersekutu dengan penjajah Amerika melakukan kejahatan terhadap muslim Sunni di negeri 1001 malam tersebut. Mereka menghapus pemahaman Sunni di Irak dan memaksakan penduduknya untuk menerima akidah Syiah, sama persisi seperti yang dilakukan oleh orang-orang Shafawi terdahulu.
Semoga Allah melindungi negeri kita Indonesia dari kejahatan orang-orang Syiah, semoga umat ini tidak mudah ditipu dengan slogan-slogan persatuan yang pada akhirnya adalah penyesalan.
Sumber:http://kisahmuslim.com

Trilogi Kisah Iran dan Daulah Shafawi: Munculnya Daulah Shafawi (1/3)


Dalam perjalanan sejarah Islam terdapat beberapa negeri yang memiliki pemikiran yang menyimpang dan melakukan kekerasan terhadap umat Islam untuk memaksakan pemikiran mereka. Seperti yang dilakukan negeri-negeri berpaham Syiah semisal; Daulah Fatimiyah, Qaramithah, Buwaihiyah, dan Shafawiyah. Cara negeri-negeri ini bergaul dengan masyarakat Islam yaitu dengan cara permusuhan, menolak pemikiran-pemikiran pihak lain dengan kekerasan dan terorisme, siapa saja yang menolak pemikiran mereka, maka kematian adalah jawaban yang tak terbantahkan. Selain itu, negara-negara ini tidak malu-malu menjalin aliansi dengan negara-negara Salib saat Perang Salib antara muslim dan Kristen sedang berkecamuk.
Oleh karena itu, apa yang hendak kami sampaikan ini sangat penting untuk kita petik hikmahnya agar kita bisa memahami realitas kekinian dengan membandingkan apa yang terjadi pada sejarah kita. Tidak diragukan lagi, dan kita melihat dengan mata kepala kita bahwa apa yang terjadi di masa lampau terulang kembali di era modern ini. Sulit bagi kita memahami apa yang terjadi saat ini, kecuali dengan membandikannya dengan peristiwa-peristiwa di masa lalu yang mirip keadaannya dengan masa kini.
Jika kita mendalami sejarah, maka kita bisa menentukan sikap dimana kita akan meletakkan kaki kita. Dengan memahami sejarah Daulah Shafawi, maka kita bisa melihat negara mana di era modern ini yang rekam jejaknya mirip dengan Daulah Shafawi.
Siapakah Yang Disebut Shafawi?
Nasab orang-orang Shafawi merujuk kepada Shafiyuddin Ishaq al-Arbadili (650-735 H/1251-1334 M), ia adalah kakek kelima dari Syah Ismail as-Shafawi, pendiri Daulah Shawafiyah di Iran. Ardabil adalah sebuah wilayah yang terletak di Azerbaijan. Wilayah itu banyak dihuni oleh orang-orang Turki dan Armenia atau secara umum bangsa Turk menghuni daerah tersebut.
Sebagian orang menyatakan bahwa nasab Shafiyuddin Ishaq al-Arbadili sampai kepada salah seorang putra ahlul bait, Musa bin Ja’far rahimahullah, orang Syiah menyebut beliau dengan Imam Musa al-Kazhim. Namun pendapat ini disanggah oleh para sejarawan dengan beberapa alasan:
– Istri dari Shafiyuddin Ishaq al-Ardabili, yang merupakan kerabatnya yang paling dekat tidak mengetahui nasab suaminya sampai kepada Musa al-Kazhim ‘alaihissalam (Tarikh ash-Shafawiyin wa Hadharatihim, Hal: 29).
– Para sejarawan Syiah di masa hidup Shafiyuddin Ishaq al-ardabili, tidak pernah menuliskan bahwa ia termasuk ahlul bait dari keturunan Musa bin Ja’far (Shilatun baina Tasawwuf wa Tasyyau’, Hal: 140.).
– Penulis-penulis pada masa Daulah Shafawi menisbatkan nasab Shafiyuddin Ishaq kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib, namun anaknya, Musa bin Shafiyuddin Ishaq, tidak tahu nasab ayahnya ini terhubung ke Husein atau Hasan.
– Pengakuan nasab tersebut hanya bertujuan politis untuk menjadi penguasa dan mendapat simpatik rakyat.
Berdirinya Kerajaan Shafawi, Rakyat Dipaksa Menjadi Syiah
Sebelum Daulah Syiah Shafawi berkuasa di Iran, wilayah tersebut dikuasai oleh orang-orang Mongol Dinasti Ilkhan. Madzhab resmi negeri ini adalah Ahlussunnah namun sudah terkontaminasi dengan paham tasawwuf.
Pada masa Shafiyuddin Ishaq, situasi politik di Iran dan sekitarnya dalam kondisi tidak stabil, rakyat merasa tidak puas terhadap pemerintahnya, perbuatan keji tersebar di kalangan penguasa, dll. Syiah membaca hal ini sebagai peluang mereka. Pada awalnya Syiah hanya sebagai gerakan keagamaan, namun pada masa al-Junaid –cucu Shafiyuddin Ishaq- gerakan madzhab ini berubah menjadi gerakan politik dan Sultan Haidar menetapkan bahwa nasab keluarga Shafawi bersambung dengan Musa bin Ja’far al-Kazhim (Tarikh ad-Daulah ash-Shafawiyah fi Iran, Hal: 38).
Deklarasi Syiah sebagai gerakan politik atau pengakuan masuknya kader Syiah dalam ranah politik bertujuan untuk memperluas pengaruh mereka dan sebagai sinyal perlawanan terhadap Dinasti Ilkhan yang mulai sakit. Gerakan perlawanan mereka dimulai pada masa Fairuz Syah yang memimpin revolusi perlawanan terhadap Ilkhan dan puncaknya dicapai pada masa Syah Ismail ash-Shafawi dengan berdirinya Daulah Syiah ash-Shafawi tahun 1501. Saat itulah madzhab resmi Iran berganti menjadi Syiah, dan rakyat dipaksa untuk memeluk pemahaman ini. Syah Ismail tidak peduli bahwa mayoritas rakyatnya adalah orang-orang berpaham Ahlussunnah. Ia mengerahkan seluruh kemampuan dan pengaruhnya untuk memaksa warga beralih madzhab menjadi Syiah.
Tidak berhenti memberlakukan kebijakan tersebut di dalam negerinya, Syah Ismail juga berupaya menyebarkan paham Syiah di Daulah Ahlussunnah seperti Daulah Utsmaniyah. Masyarakat Utsmani menolak keras ajaran Syiah yang pokok pemikirannya adalah mengkafirkan para sahabat Nabi, melaknat generasi awal Islam, meyakini adanya perubahan di dalam Alquran, dll. Ketika Syah Ismail memasuki wilayah Irak, ia membunuhi umat Islam Ahlussunnah, menghancurkan masjid-masjid, dan merusak pekuburan.
Pemimpin Utsmaniyah, Sultan Salim, menanggapi serius upaya yang dilakukan oleh Syah Ismail terhadap rakyatnya. Pada tahun 920 H/1514 M, Sultan Salim membuat keputusan resmi tentang bahaya pemerintah Iran ash-Shafawi. Ia memperingatkan para ulama, para pejabat, dan rakyatnya bahwa Iran dengan pemerintah mereka ash-Shafawi adalah bahaya nyata, tidak hanya bagi Turki Utsmani bahkan bagi masyarakat Islam secara keseluruhan. Atas masukan dari para ulama, Sultan Salim mengumumkan jihad melawan Daulah Shafawiyah. Sultan Salim memerintahkan agar para simpatisan dan pengikut Kerajaan Shafawi yang berada di wilayahnya ditangkap dan bagi mereka yang melakukan pelanggaran berat dijatuhi sangsi hukuman mati (Juhud al-Utsmaniyin li Inqadz al-Andalus).
Persekutuan Daulah Shafawiyah dengan Pasukan Salib Melawan Umat Islam
Peperangan antara Daulah Syiah Shafawi dengan umat Islam yang diwakili Turki Utsmani pun benar-benar terjadi. Sadar bahwa Turki Utsmani begitu besar untuk ditaklukkan, ash-Shafawi menjalin sekutu dengan orang-orang kafir Eropa yakni orang Kristen Portugal kemudian Kerajaan Inggris. Di antara poin kesepatakan kedua kelompok ini adalah Portugal membantu Shafawi dalam perang terhadap Bahrain, Qathif, dan Turki Utsmani.
Panglima Portugal, Alfonso de Albuquerque, mengatakan, “Saya sangat menghormati kalian atas apa yang kalian lakukan terhadap orang-orang Nasrani di negeri kalian. Sebagai balas jasa, saya persiapkan armada dan tentara saya untuk kalian dalam menghadapi Turki Utsmani di India. Jika kalian juga ingin menyerang negeri-negeri Arab atau Mekah, saya pastikan pasukan Portugal ada di sisi kalian, baik itu di Laut Merah, Teluk Aden, Bahrain, Qathif, atau di Bashrah, Syah Ismail akan melihat saya di Pantai Persia dan saya akan melakukan apa yang dia inginkan.” (Qira-ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin).
Tawaran kerja sama Portugal ini bukanlah sesuatu yang tanpa pamrih, mereka menginginkan membangun sebuah pangkalan di Teluk Arab. Bantuan kerja sama militer ini juga menjanjikan pembagian wilayah taklukkan; Shafawi mendapatkan Mesir dan Portugal diiming-imingi dengan tanah Palestina (Qira-ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin). Pasukan Salib Portugal mengtahui, bekerja sama dengan negeri-negeri muslim Teluk atau mengadakan kontak senjata dengan mereka akan berbuah kegagalan terhadap misi mereka. Shafawi adalah pilihan tepat bagi mereka untuk masuk memuluskan misi mereka di dunia Arab.
Selain bekerjasama dengan Portugal, Shafawi juga menjalin hubungan dengan Kerajaan Inggris untuk memerangi umat Islam di Irak. Di Irak mereka membunuh 7000 warga Ahlussunnah dari Suku Kurdi, melarang mereka menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan memaksa umat Islam di sana untuk berhaji ke Kota Masyhad, Iran, kota yang mereka yakini tempat kelahiran imam mereka, Imam Ali bin Musa ar-Ridha.
Inilah fakta yang terjadi, dibalik slogan-slogan persatuan ternyata ada tikaman dari belakang. Di balik kesan pahlawan, Syiah bagaikan serigala yang mengindati domba-domba yang akan dimangsa.
Pelajaran:
Sejarah mengajarkan kepada kita sebuah pengalaman berharga, betapa orang-orang Syiah melalui Daulah Shafawiyah (dan Daulah Fatimiyah, Qaramithah, dll) menaruh kebencian terhadap umat Islam. Mereka tidak pernah mengumandangkan jihad terhadap tentara salib berbeda halnya dengan umat Islam, mereka benar-benar menunjukkan permusuhan, melakukan pembunuhan dan pengrusakan, serta mengumandangkan peperangan. Sebaliknya mereka menjalin hubungan yang harmonis dengan pasukan salib dan Yahudi, bahkan terhadap orang-orang majusi penyembah api.
Hal serupa kita dapatkan di era modern ini, dimana kerajaan Shafawi modern, Republik Syiah Iran, melakukan hal yang sama dengan pendahulunya. Mereka berteriak-teriak lantang memerangi Amerika dan Israel, tapi tidak pernah kita dapati mereka berperang melawan Amerika dan Yahudi di Palestina. Sementara ribuan bahkan jutaan Ahlussunnah mereka bunuh. Dengan kekuatan media, mereka putar balikkan fakta bahwa negara-negara Ahlussunnah lah yang menjadi kaki tangan Barat Amerika dan pelindung Israel.
Pelajaran lainnya adalah Syiah selalu memanfaatkan instabilitas politik di suatu negeri untuk mencuri kekuasaan. Mereka memanfaatkan status ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintahnya dengan iming-iming perubahan dan janji manis, namun kenyataannya jauh lebih parah dari yang kita bayangkan. Semoga Allah senantiasa melindungi negeri kita dari maker-makar yang dibuat oleh orang-orang Syiah..
Sumber:http://kisahmuslim.com
Budaya Pengagungan Kubur Adalah Ajaran Syi’ah, Bukan Ajaran Salafus Shalih Ahlussunnah Wal Jama’ah Pengagungan kuburan dan komplek makam sudah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat, bahkan menjadi bagian praktek keagamaan mereka yang tak terpisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Di antaranya, dengan membuatkan bangunan makam dan memperindahnya, menjadikannya sebagai tempat shalat, mengkhatamkan baca al-Qur`ân di sampingnya dan memanjatkan do’a kepada penghuni kubur (bukan kepada Allâh Azza wa Jalla), [atau berdo'a kepada Allah dengan perantaraan penghuni kubur]. Menilik sejarah generasi Salaf, pantas dikatakan bahwa praktek-praktek ibadah di atas masuk dalam kategori bid’ah, satu perbuatan dalam beragama yang tidak pernah diperbuat oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik umat Islam. “Semua itu adalah perkara baru, belum pernah tersebar (dikenal) kecuali pasca tiga generasi paling utama (generasi Sahabat, Tâbi’in dan Tâbi’it Tâbi’in)” [Dirâsâtun fil Ahwâ wal Furûqi wal Bida’i wa Mauqifis Salafi minhâ, DR. Nâshir al-‘Aql hlm. 274]. Pada tiga generasi pertama ini, tidak ditemukan petunjuk dan pembicaraan satu pun terkait pengagungan terhadap kubur sebagaimana disaksikan sekarang.[Silahkan lihatIqtidhâ Shirâthil Mustaqîm 2/728] Dahulu tidak ada yang mengatakan, ‘berdo’a di kuburan Fulan akan dikabulkan’, ‘pergilah ke kuburan Fulan agar Allâh Azza wa Jalla memudahkan urusanmu’, atau mengadakan perjalanan khusus ke kubur yang sering dikenal dengan wisata reliji. Bahkan dahulu tidak ada istilah safar syaddul rihâl (menempuuh perjalanan jauh) yang bertujuan menziarahi kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini termasuk istilah asing yang belum dikenal sebelumnya. Justru dipandang sebagai tindakan berlebihan. Sebab yang tepat dan masyru’ (disyari’atkan) ialah berziarah (mengunjungi) Masjid Nabawi. Kitab-kitab Ulama terdahulu pun tidak ada yang membahas tema khusus berjudul ziyâratu qabrin Nabiyyi (ziarah kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). [Silahkan lihat Âdâb wa Ahkâm Ziyâratil Madînah al-Munawwarah, DR. Shâleh as-Sadlân, Dâr Balansiyah hlm. 11] Lantas, kapan mulai munculnya fenomena-fenomena tersebut ? Fenomena tersebut baru mulai muncul dan menyebar pada abad keempat, setelah berlalunya tiga generasi pertama umat yang dipuji oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Pada awalnya, berkembang pada sekte Syiah (Rafidhah) semata. Selanjutnya, ketika sekte ini berhasil membangun negara-negara kecil berasaskan Syiah dan Batiniyah, seperti rejim ‘Ubaidiyah, Qarâmithah, dan Ismâ’iliyah, penyebaran tradisi pengagungan kuburan kian meluas. Penyebarannya kian bertambah manakala tarekat-tarekat Sufiyah ikut mengadopsi tradisi Syi’ah (baca: bukan Ahlus Sunnah) ini. Hampir seluruh negeri kaum Muslimin terkena dampak buruknya. Akibatnya, masyarakat merasa asing dengan petunjuk-petunjuk Nabi dan orang-orang yang komitmen dengannya. Di negeri ini, masyarakat diajak untuk mengagungkan kuburan, dengan berbagai dalih seperti penghormatan tokoh dan mengenang jasa-jasa baiknya melalui acara Haul yang diadakan secara besar-besaran. Wisata-wisata reliji dengan tujuan makam-makam orang-orang yang dianggap sebagai wali tetap kebanjiran peminat. Bahkan sebagian orang memang berniat untuk mengunjungi kuburan-kuburan dengan menumpuk harapan mendapatkan solusi hidup, kemudahan rejeki, kedatangan jodoh dan lainnya.Wallâhul musta’ân. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Aku tidak mengenal (adanya riwayat) dari seorang Sahabat Nabi, generasi Tabi’i maupun seorang imam terkenal yang memandang disunnahkannya mendatangi kuburan untuk berdo’a (kepada penghuni kubur, red). Tidak ada seorang pun meriwayatkan sesuatu tentang itu, baik (riwayat) dari Nabi, Sahabat maupun dari seorang imam yang terkenal”. Beliau rahimahullah menambahkan, “Kemunculan dan penyebarannya ketika pemerintahan Bani ‘Abbâsiyah melemah, umat saling berpecah-belah, banyak orang zindiq yang mampu memperdaya umat Islam, slogan ahli bid’ah menyebar. Yaitu, pada masa pemerintahkan al-Muqtadir di penghujung tahun 300an. Pada masa itu, telah muncul Qarâmithah ‘Ubaidiyah di Maroko. Kemudian mereka menginjakkan kaki ke negeri Mesir…”. Mereka membangun kompleks pemakaman ‘Ali di Najef, padahal sebelumnya, tidak ada seorang pun yang mengatakan kubur Sahabat ‘Ali Radhiyallahu anhu berada di sana. Sebab ‘Ali dikuburkan di lingkungan istana di kota Kufah. Tujuan mereka ialah mengobrak-abrik ajaran Islam yang berasaskan tauhîdullâh [mentauhidkan Allah]. Selanjutnya, mereka memalsukan banyak hadits perihal keutamaan menziarahi pemakaman, berdo’a dan shalat di sana. Orang-orang zindiq ini dan para pengikutnya lebih menghormati dan mengagungkan tempat-tempat pemakaman, daripada masjid-masjid [Lihat al-Fatâwâ 27/167,168]. Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Orang yang pertama kali menyusupkan bid’ah pengagungan kuburan ialah rejim Ubaidiyah di Mesir, Qarâmithah dan Syiah (yang jelas bukan termasuk Ahlus Sunnah, red)”[Siyar A’lâmin Nubâlâ 10/16] Kesimpulan Budaya pengagungan kubur secara berlebihan sampai meminta pengharapan kepada penghuninya berasal dari golongan Syiah yang sering memusuhi Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Adalah salah, bila seorang Muslim melakukan pengagungan seperti yang telah dipaparkan di atas. Rasûlullâh Muhammad telah menetapkan apa saja yang dilakukan ketika berziarah ke kubur, yaitu mengucapkan salam, melepas alas kaki, mendoakan penghuni kubur, selain bertujuan untuk mengingatkan akhirat kepada kita. Wallâhu a’lam.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ